Enam seniman muda yang baru saja lulus dari ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta akan memamerkan karya-karya terbarunya yang dikemas dalam format pameran bertajuk ACxDC di Karja Art Space, Penestanan, Ubud. Pameran ini akan dibuka pada Sabtu, 21 Oktober 2017 mulai jam 4 sore wita. Tergabung dalam sub-bagian seni murni (fine art) dari cabang seni grafis (Alfin Agnuba & Kurma Elda Gustriyanto) dan seni lukis (Valentino Febri, Putu Sastra Wibawa, I Made Agus Darmika, & I Putu Cipta Suryanta) mempertanyakan satu sudut pandang yang sama, yaitu kemana arah tujuan setelah keluar dari wilayah akademis. Hal-hal yang sering menjadi kegelisahan para seniman yang menempuh jalur pendidikan formal. Pendidikan formal yang di tempuh mulai tahun 2010 telah mengalami berbagai macam tempaan pengetahuan, pengalaman dan eksplorasi, membentuk individu dalam kreatifitas. Keberadaan institusi bukanlah sebagai jawaban atas apa yang telah dipilih individu untuk mendapatkan label seniman lepas setelahnya, melainkan ada pemicu dari tiap individu atas pilihan yang telah dipilih. Seluruh aktivitas pendidikan yang berlangsung di kembalikan dan di tentukan oleh masing-masing individu.

pameran ACxDC di Karja Art Space, photo by ruth onduko for kabarportal

Catatan Pengantar Pameran ACxDC Oleh Rain Rosidi

Barangkali kurun waktu dengan rasa sezaman,yang membingkai pertemuan-pertemuan mereka: sekumpulan anak muda yang nyaris sebaya, dengan suasana zaman yang sama, dengan denyut pengalaman sosial yang tak jauh berbeda. Barangkali pula soal tempat; kota Jogja di mana mereka secara sama-sama membangun melankoli, menjelajah berbagai kemungkinan,dan menyusun identitas.Mereka pun berbagi ruang dan waktu dengan yang lain.

Justru atas nama seni rupa, mereka memberi alasan beberadaannya. Seni rupa sebagai sebuah mantra, sekaligus „rumah‟ mereka untuk memberi nama dan makna berbagai macam pengalaman yang mereka koleksi. Keenam anak muda ini berlatar belakang berbeda. Sebagian berasal dari pulau dewata, dan sebagian lain dari pulau Jawa. Sumber acuan, selera, teknik dan gaya yang mereka pilih dalam berkarya pun berlainan. Mereka adalah Alfin Agnuba, Putu Sastra Wibawa, Kurma Elda, Valentino Febri, Putu Cipta Suryanta, dan I Made Agus Darmika. Hanya karena seni mereka bertemu, dan pada akhirnya membangun ritus bersama, yaitu pameran seni rupa. Pameran ini menjadi salah satu bentuk usaha mereka untuk memberi nama dan nilai dari jejak pengalaman yang mereka jalani. Walau seakan acak, formasi keenamnya adalah bukan kebetulan.

BACA JUGA:  Ini manfaat yang didapatkan ketika konsumsi cuka apel.

Konon ada yang menganggap, bahwa seni rupa adalah subkultur (yang kebetulan) terlembagakan. Keenam anak muda ini berada dalam jaringan sosial seni rupa itu, yang memiliki sistem sosial dan ruang refleksinya yang unik. Perbedaan latar belakang dan pilihan media seni tidak menghalangi pertemuan-pertemuan mereka. Seni rupa memiliki semangat yang terbuka. Mereka menjalani percakapan-percakapan, berbagi bahasa, dan berbagi nilai. Dan pameran ini, sebenarnya adalah jejak dan artefak dari aktivitas mereka yang dibagi pada khalayak.

Untuk diketahui, Rain Rosidi lahir di Magelang, Jawa Tengah 26 Juni 1973, ia tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Rain adalah seorang kurator seni rupa dan dosen di Fakultas Seni Rupa Institute Seni Indonesia. Ia pernah bekerja sebagai pengelola dan kurator di Gelaran Budaya, yaitu sebuah ruang alternatif yang menyelenggarakan pameran seni rupa dan diskusi seni secara independen pada tahun 2000. Rain adalah pendiri Gelaran Budaya Yogyakarta pada tahun 1999.

Rain merupakan lulusan sarjana Seni Rupa di Institut Seni Indonesia dan meraih gelar sarjana S1 nya pada tahun 1999. Kemudian ia melanjutkan pendidikan masternya pada Jurusan Kajian Budaya dan Media di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pada tahun 2003 ia mengikuti program residensi manajemen Seni di Queensland Art Gallery, Brisbane, dan di Asian Australian Art Centre, Sydney. Rain mengkurasi beberapa pameran seni rupa, antara lain : Neo Iconoclasts, Magelang (2014), Geneng Street Art Project, Yogyakarta (2013), Future of Us, Yogyakarta (2012), Jogja Agro Pop, Yogyakarta (2011), Sensual Musical, a. Rouse, Kuala Lumpur (2011), Jogja Art Scene, at Yogyakarta Art Festival (2011) dan berbagai pemeran seni lainnya.

 

kabarportal

Follow kami Instagram/ twitter dan Facebook @kabarportal dan silahkan kontak kami untuk kerjasam melalui surel - liputan@kabarportal.com cc di kabarportalnews@gmail.com bisa juga whatsaap di 085847009080.