Pasca ditetapkannya status Gunung Agung ke level IV (awas) oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) beberapa waktu lalu, masyarakat sekitar Gunung Agung sudah dievakuasi ke pengungsian.

Meski demikian tak sedikit warga yang ditemui pada siang hari kembali ke desa asal masing-masing untuk sekedar melakukan aktipitas seperti mencari pakan ternak untuk sapi mereka. Kendati pemerintah setempat sudah mengimbau masyarakat agar tidak kembali melakukan aktipitas di zona merah, beberapa warga sekitar Gunung Agung khususnya di Desa Besakih kecamatan Rendang, Karangasem  tetap kukuh untuk kembali ke Desa. Bahkan pantauan di lapangan pada Jumat, 29 September 2017, masih banyak warga yang bertahan di desanya. “paginya saya kembali ke desa untuk menjaga dan mencari pakan ternak saya, sorenya saya balik lagi ke pengungsian”, ungkap Komang Neka pria paruh baya yang sempat ditemui di Desa Besakih.

Beberapa warga lainnya yang sempat ditemui juga mengungkapkan alasanya yang sama, maklum saja, warga sekitar sini memang kebanyakan mberprofesi sebagai peternak sapi. Mereka, saat pagi hingga siang hari kembali ke rumahnya untuk menengok dan memenuhi kebutuhan pangan ternaknya, ketika sore harinya mereka kembali ke camp pengungsian.

Diketahui jumlah pengungsi Gunung Agung terus bertambah, tercatat hingga kamis 28 September  2017 tembus ke angka 104.673 jiwa pengungsi yang tersebar di 447 titik pengungsian di 9 kabupaten/kota di Provinsi Bali.

Dari data yang diperoleh dari Posko Nasional di Karangasem, diperkirakan mencapai sekitar 30 ribu sapi yang notabene sapi tersebut berada di radius berbahaya. Dari 30 ribu sapi yang terdata diketahui sekitar 10 ribu ekor sapi telah dievakuasi oleh masyarakat secara mandiri.

Ditempat terpisah, pos evakusi sapi yang terletak di Desa Nongan, Rendang, tercatat hingga pukul 16.00 wita ada sekitar 212 sapi yang sudah terdata. “jumlah ini bisa bertambah mengingat masih cukup banyak  ternak yang belum dievakuasi”, ungkap Eka Candraningsih salah satu petugas yang ditemui dilokasi evakuasi, (29/9).

Lebih lanjut, Eka juga menjelaskan lahan seluas 1,5 Ha tersebut mampu menampung ternak sekitar 500 hingga 600 ternak. Eka juga mengatakan, sampai saat ini dilokasi tersebut masih memerlukan bantuan seperti ember untuk tempat menampun pakan ternak, kosentrat, terpal.

Peternak yang Sedang Memberikan Pakan di Lokasi Evakuasi Ternak Desa Nongan kec. Rendang (29/9)

“selain dibantu petugas, pemilik sapi juga secara bergantian ikut menjaga sapi yang tertampung disini, jadi kita juga memerlukan lotion anti nyamuk salahsatunya”, tuturnya.

Terkait dengan issue yang beredar tentang harga sapi yang dijual dengan harga sangat murah, wanita berkaca mata ini dengan tegas membantahnya, menurutnya issue tersebut cukup meresahkan warga. “itu tidak benar, harga sapi disini masih normal menyentuh angka 6jt harga tersebut didapat mengingat populasi ternak sapi saat ini cukup banyak”, ungkapnya.

Lebih lanjut, Eka juga menanggapi tentang warga yang kembali ke desanya, warga memiliki beberapa alasan sehingga harus kembali ke desanya dan sorenya balik kembali ke camp pengungsian, ya salah satunya untuk menengok dan memenuhi kebutuhan pangan ternaknya.

“alasannya cukup beragam, tapi yang lebih banyak sih karena lokasi ternak mereka cukup jauh dan akses menuju kesana masih cukup susah, namun team (dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, dan Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem_red ) kami sesegera mungkin akan melakukan tindak evakuasi”, tuturnya.

Eka juga mengatakan, ternak yang berada di tempatnya semua dalam keadaan sehat dengan pasokan makanan yang cukup memadai. “jadi selain team yang mendatangi kelokasi untuk proses evakuasi, warga sekitar juga secara mandiri datang kelokasi untuk meminta bantuan evakuasi ternak mereka”, pungkasnya.

Bantuan untuk penanganan evakuasi sapi juga telah disalurkan berupa 5 ton pakan konsentrat, 10.000 dosis obat-obatan, 1 mobil truk utk evakuasi ternak, pembangunan kandang, atap dan kelengkapannya, dan kelengkapan untuk identifikasi ternak. Satgas juga memfasilitasi bantuan  dari berbagai pihak, dimana bantuan yang telah diterima terus disalurkan berupa pakan konsentrat 55 ton, kendaraan untuk evakuasi ternak sebanyak 9 unit truk.

Disisi lain melalui siaran pers, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, kendala yang dialami saat melakukan evakuasi ternak adalah terbatasnya kendaraan yang ada. “Saat ini baru tersedia 20 truk dengan persediaan pakan ternak juga terbatas”, tuturnya.

Sebagai tambahan, saat ini Satgas terus berupaya melakukan evakuasi sapi. Mayarakat juga diimbau untuk menghubungi hotline nomor 081238632084 untuk layanan informasi penanganan evakuasi ternak dan kesehatan hewan yang bisa diakses 24 jam.

Tidak hanya itu, beberapa aktipitas warga juga sempat terpantau dilapangan, salahsatunya adalah warga yang berprofesi sebagai sopir pengangkut pasir. Adalah Komang Pariana, warga desa Muncan kecamatan Rendang, Karangasem, dirinya terpaksa melakukan aktivitas kesehariannya yang tergolong berbahaya tersebut, mengingat lokasi pengambilan bahan material pasir tersebut berada di zona merah yakni mencapai radius 9km. “ya ini bukan sebuah aksi perlawanan, namun saat ini belum ada pilihan lain selain pekerjaan ini”, tutur pria 32th tersebut di Desa Muncan.

Komang juga mengharapkan pemerintah memberikan  sebuah solusi untuk pekerjaan selama proses evakuasi berlanglung. “saya harap sih pemerintah memberikan solusi, saya tau ini berbahaya tapi tidak ada pilihan lain, saya sempat mencoba untuk melamar kerja di tempat lain, namun terkendala persyaratan”, ungkap pria yang mengaku masih single tersebut.

kabarportal

Follow kami Instagram/ twitter dan Facebook @kabarportal dan silahkan kontak kami untuk kerjasam melalui surel - liputan@kabarportal.com cc di kabarportalnews@gmail.com bisa juga whatsaap di 085847009080.