Menu 1

September 16, 2019

Ini syarat untuk ikut omed-omedan

kabarportal.com – Bali selain sarat akan keindahan alamnya, Bali rupanya menyimpan begitu banyak keunikan didalamnya, salah satunya adalah keunikan tradisi yang ada di setiap kabupaten. Omed-omedan adalah satu diantara sekian tradisi yang terdapat di Bali yang hingga saat ini masih tetap dilestarikan keberadaanya.

Tradisi yang hanya ada di Banjar Seseta Kaja, Desa Sesetan – Denpasar Selatan tersebut, diadakan sehari setelah nyepi atau bertepatan pada ngembak geni. Seperti yang diketahui, omed-omedan diwarisi sejak abad ke-17 hingga kini tradisi tersebut tidak saja menjadi daya tarik wisatawan lokal namun hingga wisatawan manca negara.

Baca Juga : Akulturasi Budaya ini menjadi bukti dari ke Bhinekaan

Meurut dari kata pnglingsir Banjar Kaja Jro Wayan Sunarya saat ditemui dilokasi acara mengatakan, omed-omedan dahulunya dibuat dengan makna  kesenangan semata untuk merayakan panen. “jadi dulu omed-omedan ini dimaknai sebagai sebuah perayaan kesenangan anak muda setelah melaksanakan panen dan tentu untuk mempererat taki persaudaraan”. Jelasnya (29/3).

Bliau juga mengungkapkan syarat untuk bisa menjadi peserta omed-omedan adalah masih lajang, usia paling muda berumur 17 tahun dan peserta harus warga sesetan. Rangkaian omed-omedan tahun ini juga diisi dengan pementasan musik, tari barong bangkung dan stand kuliner, acara yang dihadiri secara langsung oleh wali kota Denpasar tersebut terlihat dibanjiri pengunjung yang notabene berasal dari luar kota Denpasar.

Omed-omedan memiliki arti tarik-menarik dimana sebelum dimulainya omed-omedan para peserta akan memulainya dengan sembahyang bersama kemudian peserta akan dibagi menjadi dua kelompok sesuai jenis kelamin mereka, kekita sudah mulai satu orang dari masing-masing kelompok akan diangkat dan dihadap-hadapkan lalu ditabrakkan yang dibarengi dengan disiramkannya air ke peserta yang ditabrakan tersebut.

Baca Juga : Pesta Frankofoni 2017, Hadirkan Tiou dan Ciné-club.

Reaksi mereka pun cukup beragam, ada yang sekedar mencium pipi atau hanya sekedar berpelukan, tradisi yang sempat menjadi kontroversi tersebut ditegaskan kembali oleh salah satu tokoh Banjar Kaja Sesetan, I Gusti Ngurah Eka Putra saat ditemui disela-sela acara bliau mengatakan bahwa tradisi tersebut bukan merupakan aksi ciuman masal, melainkan hanya sebatas berpelukan antar muda-mudi secara bergantian yang dibarengi dengan siraman air.

“kita tegaskan kembali disini, tradisi omed-omedan bukan ciuman masal seperti yang dibayangkan, ini hanya sebatas berangkul atau berpelukan antara Sekaa Teruna Teruni secara bergantian dan disiram air”. Ungkapnya.[ADM]

Foto by Istimewa

 

Comments on Facebook