Menu 1

September 19, 2019

Jro Mangku Widiartha : Pratima dan Lontar Tidak di Evakuasi

Sempat tersiar himbauan untuk melakukan penyelamatan “Pratima” atau benda sakral lainnya yang tersebar di mediasosial, Kelihan Desa dari Desa Adat Besakih, Jro Mangku Widiartha menegaskan jika “Pratima” dan benda sakral lainnya tetap berada di areal Pura Besakih. Hal tersebut diungkapnya saat ditemui di salah satu rumah milik warga yang juga berdekatan dengan Pos Pantau Vulcanologi Karangasem, (29/9).

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Karangasem juga sudah melakukan rapat koordinasi dengan para pemangku atau pendeta Hindu di Pura Besakih yang dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Karangasem untuk menyelamatkan benda-benda sakral agar tidak hilang dan rusak akibat bencana. “rapat itu dilakukan pada 24 September 2017 bertempat di Kantor Perbekel”, tuturnya kepada Beritagar.ID

Ketika ditanya prihal beredarnya himbauan untuk melakukan evakusi terhadap Pratima atau benda sakral lainnya yang terdapat di areal pura terbesar di Bali tersebut, pria berusia 47th tersebut menegaskan, tidak ada kata evakuasi terhadap pratima atau benda sakral lainnya yang berada di areal pura Besakih terlebih memindahkannya dari areal pura.

Dari penuturannya, sejak pertama kali Gunung Agung meletus 1808 hingga terakhir di tahun 1963 Pratima atau benda sakral lainnya tidak di evakuasi keluar dari areal pura. “menurut tetua dan cerita yang ada, Pratima atau benda sakral lainnya tetap berada di tempatnya masing-masing di areal Pura Besakih”, tuturnya.

cantinya Gunung Agng saat Diang Hari

Widiartha juga menambahkan, dari cerita yang turun-temurun yang didapat serta beberapa saksi mata yang mengalami saat kejadian di tahun 1963, Pura yang dikenal sebagai Ibu dari segala Pura itu masih cukup aman dari panasnya lahar, pun hujan abu atau sejenisny. “astungkara, menurut kesaksian dari tetua kita yang mengalami kejadian tersebut, Besakih terhindar dari hasil letusan Gunung Agung, hanya saja retakan dan patahan yang ada itu diakibatkan oleh Gempa”, ucapnya.

Ketika ditanya soal tanda-tanda kapan Gunung Agung akan meletus, Jro Mangku Widiartha menjelaskan, biasanya tanda-tanda tersebut akan terlihat dari banyaknya binatang yang ada di tengah hutan Gunung Agung turun ke daratan, sumber air akan mulai mengering, dedaunan akan mengering, dan gempa bumi. “sementara ini yang paling nyata terasa sih linuh ( Gempa Bumi) sangat terasa setiap hari, namun jika issue yang beredar tentang hewan yang mulai banyak turun saya tidak berkomentar banyak, karena saya sendiri belum pernah menemui secara langsung”, pungkasnya.

Namun, pihaknya juga mengimbau kepada semua masyarakat untuk tetap tenang dan tidak termakan oleh berita palsu yang beredar. Widiartha juga mempercayakan sepenuhnya kepada pihak terkait prihal aktivitas Gunung Agung.

Ditanya terkait jumlah Pratima yang ada di Pura Besakih, Jro Bendesa tidak banyak menanggapi. “disini terdapat 25 Pura berbeda, dimana jarak antar pura itu berbeda, dan kalau masalah berapa jumlah Pratima, saya tidak berani berkomentar banyak”, ucapnya.

Ditempat terpisah, salah satu warga yang sempat ditemui di areal parkir no. 2 Pura Besakih mengatakan, jika ditahun 1963, tidak banyak terlihat ciri-ciri akan meletusnya Gunung Agung. “ditahun itu (1963-red) tidak banyak ditemui tanda-tanda Gunung akan meletus”, ungkap Nengah yang ditemui di warung miliknya yang terletak di areal parkir no 2 Pura Besakih, (29/30).

Nengah juga bercerita, ketika Gunung Agung meletus di tahun 1963, dirinya masih berusia sekitar 18th, saat itu, dirinya menjadi relawan. “saat itu di Pura Besakih juga ada upacara besar, tidak banyak ciri-ciri yang terlihat”, kenangnya.

Nengah juga mengatakan, Pura Besakih saat itu terhindar dari lahar ataupun material yang dikeluarkan saat terjadi letusan. “pratima dan benda sakral lainnya aman masih ada di areal pura, Pura Besakih terhindar, karena material yang keluar dariperut bumi lebih banyak ke bagian Utara hingga ke Singaraja”, kenangnya

Penuturan warga lainya yang sempat ditemui di Singaraja mengatakan, hujan abu di tahun 1963 bisa mencapai 1th. “hujan abunya sampai satu tahun, ya tidak sepanjang hari, setidaknya sehari sekali kita merasakan hujan abu tersebut”, ungkap Made Arjaya

Humas dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dewa Beratha saat hendak dikonfirmasi tidak menanggapi, namun dari surat edaran tertanggal 25 September 2017, pihak Dinas Kebudayaan Provinsi Bali menghimbau kepada seluruh warga, kelian Banjar, Pemangku dan Para Bendesa Adat Pakraman yang masuk wiayah rawan bencana untuk ntuk tidak lupa mengevakuasi atau menyelamatkan naskah-naskah penting, Lontar, Prasasti dan Pratima serta pusaka lainnya yang sangat oentingkeberadaannya bagi keberlangsungan kebudayaan Bali. Serta dalam surat tersebut juga tertera jika Dinas Kebudayaan Bali ( DISBUD) bersedia membantu, berkoordinasi dan jika diperlukan, DISBUD siap menjadi tempat penyimpanan sementara Pusaka tersebut.[KP12]

 

Comments on Facebook