Yosep yang memilih simbolisasi untuk mendekati realisme terbilang sukses. Pilihan simbolnya subtle dan kadang seakan-akan tak berguna. Tapi justru memberikan atmosfer tidak tenang yang diinginkan. Misalnya, suatu kali Wiji berada di gedung bioskop yang disulap menjadi tempat lomba badminton yang diadakan oleh tentara.

Sampai menjelang akhir, tanpa adegan yang dilebih-lebihkan penonton dibawa untuk memahami kondisi Wiji dan keluarganya. Meski begitu, tidak ada penyesalan yang didapatkan Wiji. Semangatnya untuk memberontak malah makin berkobar. Di satu adegan dia memuji para pengejarnya karena mengajarkan anak-anaknya bahwa kejujuran bisa membuat pemerintah berbalik jahat kepadamu.

Ketika film ditutup dengan pertemuan Wiji dan Sipon (diperankan oleh Marissa Anita yang bermain baik), kita mengetahui bahwa Wiji sudah tak lagi punya ketakutan. Ia telah membulatkan tekad untuk menghancurkan penguasa. Hari-hari yang terpaksa dialaminya menjadikannya seorang manusia yang lebih kuat.

Sebagai sebuah perkenalan kepada Wiji mungkin Istirahatlah Kata-Kata tidak sepenuhnya tepat. Film ini justru lebih terasa seperti pembuka mata bahwa pernah ada masa yang keras suaranya akan ditindak dengan kekerasan juga.

Sebelum menonton Istirahatlah Kata-Kata pastikan Anda telah mendapat semua informasi mengenai sang penyair yang kemudian tak juntrung rimbanya. Karena selain sedikit informasi yang ditampilkan dalam bentuk teks di awal dan di akhir film, sedikit sekali yang bisa diketahui dari Wiji. Perbedaan ini yang membuat Istirahatlah Kata-Kata terasa relevan bagi siapapun. Wiji bisa saja kita, rakyat biasa yang kebetulan tidak menyetujui pemerintah otoriter.[ADM/RS]

trailernya disini

interview pemeran Wiji Tukul di morning show NET.

foto by istimewa

BACA JUGA:  Perempuan Tanah Jahanam, Ngeri dan Mencekam

Pages: 1 2