Rangkaian Denpasar Film Festival masih berlangung hingga beberapa bulan kedepan. Salah satu rangkaian yang baru saja usai dilaksanakan adalah Kemah Pelatihan Produksi Film Dokumenter – DFF 2017, yang digelar di tepian Danau Buyan, Buleleng, yang berlangsung selama lima (7 – 11 Maret 2017). Dalam kegiatan tersebut juga menghadirkan pembicara yang berkopenten dibidangnya seperti Rio Helmi (Fotografer Senior, Juri DFF), I Wayan Juniartha (Juri DFF, Jurnalis, Ketua Program Ubud Writers and Readers Festival, Editor The Jakarta Post), Anton Muhajir (Jurnalis, Pengelola Sloka Institute dan Editor BaleBengong.net), Totok Parwatha (Fotografer Senior) dan Olin Monteiro (Aktivis Perempuan, Produser Film Dokumenter dan Koordinator Peace Woman Across The Globe Indonesia).

Panji Wibowo mengatakan, film documenter merupakan sebuah gagasan atau pandangan mengenai sebuah realitas tertentu, dimana dalam hal ini film documenter sesungguhnya memiliki hubungan berkesesuaian dengan realitas yang difilmkan. “pada dasarnya film documenter itu adalah film yang sesuai dengan fakta yang ada, tapi dalam perkembangannya hal itu tak selalu terjadi. Saat ini film dokumenter selalu melibatkan perlakuan kreatif untuk keperluan narasi atau pun artistik yang tetap meyakinkan bahwa subyek, situasi, atau peristiwa yang difilmkan benar-benar terjadi dalam dunia nyata”. Tuturnya.

 Baca Juga : SSMC : Jaring Sineas Muda Creative Denpasar

“Oleh sebab itu, penguasaan teknis maupun artisktik semestinya harus dikuasai dengan baik oleh para pembuat film dokumenter. Dan, pengetahuan mengenai hal itu sebaiknya diperkenalkan dan kuasai sedini mungkin”. Tutur Panji Wibowo yang juga merupakan  sutradara film dokumenter jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Panji juga mengungkapkan bahwa selain cara membuat yang benar, para generasi muda juga harus mengetahui cara membaca film yang benar. Seperti yang diketahui peserta pelatihan kemah tahun ini masih diikuti oleh siswa/ I dari tingkat SMP-SMA/ SMK sekota Denpasar.

BACA JUGA:  Denpasar Film Festival 7 : Soroti “Air dan kehidupan”

“Mereka harus paham bahwa sejak lama film dokumenter diposisikan sedemikian rupa, bahkan diberi muatan ideologi dan ‘berpihak’ sehingga tidak pernah menjadi sesuatu yang ‘netral’. Karena itu saat menontonnya mereka harus melakukan interpretasi secara hati-hati sebagaimana halnya menonton film fiksi,” ujarnya.

Menurut Panji, agar para peminat film dokumenter mendapat pemahaman yang baik tentang media tersebut, pembelajaran haruslah ditata secara baik mulai dari sejarah, tata bahasa, teknik, manajemen, dan pengetahuan-pengetahuan lain yang berkait.

Baca Juga : Good Fransce 2017 serentak digelar di 4 kota besar Indonesia.

“Dengan pembelajaran yang baik dan tepat, para pembuat dokumenter kita akan menjadi duta-duta yang cemerlang dalam menyuarakan realitas untuk kemuliaan bangsanya,” imbuh aktivis gerakan perfilman yang juga alumni Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakara Jakarta itu.

Disilain, Direktur Denpasar Film Festival, Agung Bawantara memaparkan bahwa kemah pelatihan film dokumenter ini merupakan rangkaian yang tak terpisahkan dari program DFF lainnya yakni Grant Program  dan Pemeran Project 88. Project 88  adalah pameran foto esai di mana setiap fotografer menghadirkan delapan karya foto dilengkapi dengan delapan alenia paparan (teks).

 “Jadi ini kait berkait dalam konsep penyelenggaraan terpadu yang menyakup edukasi, produksi, kompetisi, ekspresi, eksibisi, dan apresiasi,” ujar Agung.

Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra pada sambutan yang dibacakan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Dra. Ni Nyoman Sujati, MM, pada upacara pelepasan peserta menyatakan, melalui kemah pelatihan produksi film dokumenter ini diharapkan semakin banyak bertumbuh sumber daya manusia di bidang perfilman yang berkualitas di Kota Denpasar.

Baca Juga : APPMI Bali gelar “The Bali Culture Show” untuk song-song 100 Berkebaya.

Rai Mantra juga berharap setelah pelatihan peserta terus dituntun dan diarahkan agar menjadi entrepreneur-entrepreneur di bidang perfilman yang tidak saja mampu membuat karya untuk kesenangan, melainkan turut membangun dan menggerakkan indutri kreatif di Kota Denpasar.

BACA JUGA:  Aceh Masih Dominasi dalam Gelaran Denpasar Film Festival 2017

Tentang penyelenggaran festival yang terintegrasi dari sejak pelatihan, pendampingan produksi, apresiasi, hingga lomba film ini, Panji Wibowo mengatakan bahwa menurut pengamatannya ini hanya satu-satunya di Indonesia.

“Sepanjang pengamatan saya mengikuti berbagai festival film di Indonesia, bahkan di dunia, belum pernah saya temui penyelenggaraan festival terintegrasi macam ini”. tandasnya.[*]

 

 

 

kabarportal

Follow kami Instagram/ twitter dan Facebook @kabarportal dan silahkan kontak kami untuk kerjasam melalui surel - liputan@kabarportal.com cc di kabarportalnews@gmail.com bisa juga whatsaap di 085847009080.

comment dong