Menu 1

September 17, 2019

Peta Seni dan Design Denpasar 2017 diluncurkan bersama komunitas Seni kreatif Bali.

“DenPasar2017 bertujuan untuk mempromosikan kota Denpasar dalam pemetaan seni, desain dan wisata kreatif di pulau Bali, dengan memberikan perspektif artistic dan cerita-cerita menarik yang belum banyak mendapat perhatian, dan mengundang dunia untuk datang dan berkeliling di Denpasar” – CCG

Pada tanggal 10 Juni 2017, CushCush Gallery (CCG) meluncurkan peta seni + desain DenPasar2017 yang pertama bersama komunitas seni + kreatif di Bali. Peta seni + desain DenPasar2017 berfokus pada berbagi informasi tentang tempat-tempat keberadaan kesenian, kreatifitas dan warisan budaya kota Denpasar. Peta gratis ini akan di distribusikan di tempat-tempat terpilih di Bali, untuk mengundang wisatawan lokal dan internasional datang menjelajahi pesona unik Denpasar.

DenPasar2017 didukung oleh Badan Pariwisata Bali, Badan Kreatif Denpasar (Bekraf) dan Badan Promosi Pariwisata (BPPD) Denpasar. Peluncuran peta seni + desain DenPasar2017 diadakan saat  ‘Meet The Artists # 1’ di CCG, sebagai bagian dari rangkaian program 3 bulan yang diadakan bersamaan dengan pameran DenPasar2017. Peta seni + desain DenPasar2017 diresmikan oleh perwakilan dari Bekraf Denpasar Bapak Wayan Sudarta dan Bapak Putu Yuliartha, bersama dengan pendiri CCG Suriawati Qiu dan Jindee Chua, yang disaksikan oleh komunitas seni dan kreatif di Bali. 

TENTANG CUSHCUSH GALLERY (CCG)

CushCush Gallery (CCG) adalah bagian dari  keluarga CushCush yang bertujuan untuk memberikan ruang untuk kolaborasi kreatif dalam seni kontemporer + desain. CCG adalah galeri alternatif yang mencakup interaksi dan merayakan kreativitas multi-disiplin melalui eksplorasi persimpangan seni, desain, materialitas, teknik dan kerajinan.

CushCush Gallery dibuka pada tahun 2016 dengan pameran tunggal “Crucible”, yang merupakan hasil dari CCG creative-in-resident program  dari desainer, akademisi dan pendidik Australia: Ross McLeod. Pada saat yang sama, pameran “Future Canggu” di hadirkan oleh desainer magang dari RMIT (Royal Melbourne Institute of Technology) yang merespon sebuah lokasi terpilih di Canggu, Bali. Bekerja sama dengan inisiatif LagiLagi, CushCush Gallery bersama-sama mengorganisir workshop CHARCOAL FOR CHILDREN yang melibatkan seniman lokal dan internasional dan komunitas kreatif untuk mengeksplorasi arang gambar buatan sendiri bersama anak-anak. Dalam workshop ‘MAKE YOUR OWN CHARCOAL’, teknik bagaimana membuat arang secara DIY  dibagikan kepada peserta.

Pada tahun 2017, CushCush Gallery menyelenggarakan program pameran, residensi, workshop, dan kolaborasi sepanjang tahun yang berfokus pada pengembangan pengalaman seni + desain kontemporer di Denpasar dan Bali, dengan memfasilitasi pertukaran antara komunitas seniman dan kreatif  lokal dan internasional.

 

TENTANG DENPASAR 2017

DenPasar2017 adalah sebuah program baru di CushCush Gallery (CCG) yang bertujuan untuk menempatkan Denpasar dalam pemetaan rute seni dan desain di Bali. Diciptakan sebagai pameran kelompok tahunan di CushCush Gallery, Denpasar – Bali, pameran ini mengenalkan seniman dan kreatif muda yang berbasis di Bali, dengan karya-karya yang berbicara tentang Denpasar.

Melalui open call pada bulan Januari 2017, 17 seniman dan kreatif diseleksi untuk merespon dan  menciptakan karya 2 dimensi dengan tema Pasar dan Bahasa Pasar. Seniman terpilih adalah ADHIKA ANNISA NINUS (arsitek, penari, dan artis pertunjukan), DIAN SURI HANDAYANI (perancang perhiasan), MYRA JULIARTI (perancang busana), FARHAN ADITYASMARA (seniman visual dan dosen seni), IGPA MIRAH RAHMAWATI (seniman seni rupa dan dosen seni) , I GEDE JAYA PUTRA (seniman seni rupa), ANDRE YOGA (ilustrator dan seniman mural), I PUTU SUHARTAWAN (seniman seni rupa), I WAYAN MARTINO (fotografer), LUGU GUMILAR (barista dan ilustrator), NADJMA ACHMAD (perancang produk dan fotografer), SIDHI VHISATYA (illustrator dan seniman mural), SYAFIUDIN VIFICK (fotografer), TRI HARYOKO ADI (seniman mural), QOMARUZZAMAN ALAMRY (seniman komik), REEVO SAULUS (desainer grafis), dan YOGA WAHYUDI (perancang busana).

DenPasar2017 bukan hanya pameran seni; tapi juga merupakan sebuah pergerakan.

Selain bertujuan untuk memberi landasan bagi kesenian dan sastra untuk berbicara tentang pasar dan Denpasar sebagai bentuk dokumentasi dan penciptaan citra baru pada tahun 2017, CCG mendambakan DenPasar2017 untuk menjadi awal pemetaan kota Denpasar di dalam seni dan rute perjalanan kreatif di Bali.

Untuk menambah  lapisan dan memberikan perspektif yang lebih luas dengan tema ‘Bahasa Pasar’, CCG telah mengundang 4 seniman dan komunitas kreatif yang membawa pasar dan Denpasar sebagai tema utama mereka dalam penciptaan mereka untuk menunjukkan karya mereka, sebagai kolaborasi lebih lanjut untuk pameran DenPasar2017. Mereka adalah Urban Sketchers Bali (komunitas sketsa kreatif), Swoofone (artis street art), KitaPoleng (komunitas pertunjukan seni) dan Masuria Sudjana (fotografer generasi ke-3 yang berbasis di Denpasar).

Pameran DenPasar 2017 berlangsung dari tanggal 26 Mei sampai 26 Agustus 2017, bersamaan dengan Pesta Kesenian Bali (PKB) di Denpasar. Selama 3 bulan pameran berlangsung, ada serangkaian program menarik termasuk sesi ‘Meet The Artists’, sebuah workshop tari kontemporer dengan KitaPoleng, Street Art Talk dengan artis ‘street art’ Swoofone, Slinat dan Bombdalove, Design Talk dengan desainer dan arsitek Budiman Ong, Fransiska Prihadi. (Cika) dan Nyoman Miyoga, sketsa workshop dengan Urban Sketchers Bali, presentasi fotografi oleh Masuria Sudjana dan pemutaran Arsip Bali 1928 yang di narasikan oleh Marlowe Bandem. Program ini terbuka untuk umum dan semua orang dipersilahkan untuk berpartisipasi.

Sebagai bagian dari gerakan DenPasar2017, CCG meluncurkan peta art + desain DenPasar2017 yang pertama pada 10 Juni 2017 di CCG, bersama dengan komunitas seni dan kreatif di Bali.[Rls/RED]

Comments on Facebook