kabarportal.com- Selain keindahan alamnya, Bali juga menawarkan keindahan pesona budayanya, dari sisi Barat hingga Timur pun Selatan dan Utaranya memiliki cukup banyak tradisi yang unik. Salah satu tradisi yang ada dikawasan Bali selatan ini cukup ditunggu-tunggu oleh wisatawan.

Namanya Ngerebek atau lebih dikenal dengan nama Mekotek. Tradisi khas yang dimiliki oleh Desa Adat Munggu, kecamatan Mengwi tersebut, berawal dari Kerajaan Mengwi. Raja Mengwi yang berkuasa di daerah Mengwi sampai ke Desa adat Munggu, berencana untuk menjajah kerajaan Blambangan di Jawa. 

Sebelum menjajah Raja Mengwi memohon doa restu di Pura Dalam Wisesa Adat Munggu bersama rakyat dan pepatihnya, atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, konon Raja Mengwi diberkahi tombak dan tameng sebagai senjata.

Singkat cerita Raja Mengwi dapat menaklukan Raja Blambangan, setelah mendapat kemenagan Raja Mengwi kembali pulang, namun didalam perjalanan tepatnya di tanah Gilimanuk. Raja Mengwi saling serang antar temannya sebagai wujud rasa gembira atas kemenangan menaklukan Raja Blambangan, lalu Raja Mengwi bersumpah akan mengadakan kegiatan Mekotek di Wilayah Desa Adat Munggu setiap Saniscara( Hari sabtu kliwon) Wuku Kuningan yang bertepatan pada hari raya Kuningan. 

Bendesa Adat Munggu I Made Rai Sujana menjelaskan bahwa acara tradisi Mekotek merupakan suatu tradisi turun menurun yang dimulai pada zaman kejayaan kerajaan Mengwi yang dulu beristana di Desa Adat Munggu, dan trasdisi Mengkotek ini sudah ditetapkan sebagai warisan budaya nasional. 

“Baru-baru ini sudah ditetapkan sebagai warisan Budaya Nasional oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan,” ucapnya hari sabtu(15/04/2017)

Selain itu Sujana juga menuturkan makna tradisi Mekotek ini yang menurutnya mempunyai tiga makna, yang pertama adalah sebuah penghormatan bagi jasa para pahlawan dahulu, karena tradisi Mekotek ini suatu kemenangan perang kerajaan Mengwi dalam memperluas wilayah kekuasaannya.

BACA JUGA:  Janagan Keliru, Ini makna dan penempatan bija yang benar

Kedua makna Mekotek ini mempunyai makna menolak balak atau memberikan keselamatan dan kesuburan pada lahan petani yang ada di Mengwi dan juga mengusir roh-roh jahat yang akan masuk pada masyarakat. 

“Kenapa masyarakat menyakini tradisi penolak balak,  karena pada zaman penjajahan tradisi ngerebek ini perna dilarang oleh penjajah karena dikira akan melakukan pemberontakan atau perlawanan kepada Belanda sehinga yang terjadi di Desa dan masyarakat dahulu banyak yang terkena penyakit bahkan banyak yang sampai meninggal, dan lahan pertanian juga banyak yang terkena hama, ” ungkap Sujana

Selanjutnya menurut Sujana Makna yang ketiga adalah suatu alat pemersatu bagi para anak-anak muda, dengan melaksanakan tradisi Mekotek mudah-mudahan menjauhkan dari hal-hal negatif seperti memakai narkoba dan hal lainnya.

Lebih jauh lagi Sujana juga menambahkan untuk prosesi upacara Mekotek ini dimulai pukul 02:00 Wita 

dengan menggelar sembayang bersama di Pura, dan setelah itu berjalan bersama sambil melakukan Mekotek atau perang bersama dengan menggunakan kayu Pulet kayu asli Bali yang sangat kuat lalu mengelilingi Desa sekitar dan berakhir pada pukul 05:00 Wita Sore. 

“Upacara Mekotek ini diikuti 12 Banjar Adat seluruh Desa Adat Mungguh dan prosess pertama kita melakukan sembayang bersama untuk memohon keselamatan saat kita melakukan tradisi ngerebek  atau Mekotek ini.(JIK/ DAF)

Leave a Reply

Your email address will not be published.