Mungkin cerita ini sedikit sensitif dan penulis telah memikirkan konsekwensi atas tulisan ini, hingga tulisan ini publish.

Ini sebenarnya pengalaman penulis saat menjalani profesi sebagai seorang wartawan atau penulis lebih asik menyebutnyan sebagai “Pengepul Berita”.

Sejak penulis menjalani profesi tersebut di tahun 2016 penulis semakin mengerti jika “upeti” dalam dunia media itu ada.

Okrlah kalau sesama media saling menunjukkan taring tak masalah asal tetap menjunjung tinggi sportifitas serta keterbukaan, nah ini sesama wartawan yang sama – sama masih kerja sama orang juga saling “bunuh”, bahkan karena urusan “upeti” banyak menimbulkan masalah.

Sebenarnya ini masalah klise dan bahkan sudah tertulis di dalam perundang-undangan, ya apa memang benar peraturan dibuat hanya untuk dilanggar? #hemmm….

Penulis tidak munafik jika memang narasumber atau sejenisnya yang memang memberikan penulis berupa “upeti” tapi biasanya penulis selalu bilang tulisan tidak akan dipengaruhi oleh “upeti” tersebut dan penulis memiliki satu komitmen jika penulis kerja untuk sebuah tulisan lalu menghasilkan uang dan bukan kerja untuk uang lalu menghasilkan tulisan.

Ada atau pun tidak itu tak akan mempengaruhi penulis, bukan bermaksud sombong dan sok idealis namun penulis memiliki banyak pengalaman tentang hal ini bahkan yang awalnya dibilang tidak menerima konfirmasi lagi akrena quota telah terpenuhi akhirnya penulis tiba-tiba diijinkan ikut lantaran penulis diketahui bekerja untuk media nasional.

Penulis tidak selamanya menyalahkan narasumber terkait masalah ini namun terkadang hal ini juga membuat beberapa narasumber menjadi terkesan takut sama wartawan. “Kalau ngundang wartawan perlu uang berapa? Kalau ngundang media susah gak sih? Aku perlu siapkan dana berapa?

Itu sebagian kecil dari ribuan pertanyaan yang penulis temui dilapangan. Sekali lagi penulis tegaskan. Mengundang wartawan itu geratis alias tidak dipungut biaya kecuali kalian memasang iklan.

Namun perlu digaris bawahi, walau geratis kalian juga tak sepatutnya membdrikan perlakuan yang baik kepada wartawan sebab mereka itu adalah oenyambung lidah yang memiliki sejuta permasalahan, dari redaksi, keluarga, diri sendiri dan sebagainya.

Sekarang ini tidak bisa lagi membedakan yang mana dikatakan “wartawan bodrex” dan yang mana tidak, bahkan cara kerja oknum ini sangat halus namun cukup meresahkan.

Bahkan penulis sering dengar keluhan yang jika tak ada upeti namun terkadang jika ada upeti artikel tak kurun terpublsih. Penulis juga sering mengalami hal sepertinya. “Waduh maaf mas kolom absennya abis”. Lah terus urusannya denganku apa? Kan aku datang atas undangan atau/ dan melihat acara itu menarik, dikira aku mencari “upeti”. Tidak, sama sekali tidak, penulis tak terlalu berharap karena udah capek berharap tapi akhirnya ditinggalkan #ehh

Siapapun yang menemukan link tulisan ini mengerti dan paham maksud penulis. Bantu sebarkan agar paham.

kabarportal

Follow kami Instagram/ twitter dan Facebook @kabarportal dan silahkan kontak kami untuk kerjasam melalui surel - liputan@kabarportal.com cc di kabarportalnews@gmail.com bisa juga whatsaap di 085847009080.

Comments on Facebook