Menu 1

October 18, 2019

Radio Tak Lagi Membuat Pendengarnya Penasaran ?

radio/pict google/kabarportal.com

Era ’90 an adalah jamannya penulis bermain imajinasi tentang dunia penyiaran khususnya radio. Bagaimana tidak membuat penulis menjadi penasaran, suaranya yang merdu serta terkesan dewasa dan cukup lihai dalam menghibur adalah bagian yang membuat penulis terkagum dengan seorang penyiar radio.

Dulu selain Radio Republik Indonesia (RRI) penulis sangat gemar mendengarkan Radio Guntur FM selain programnya yang bagus, playlist dan penyiarnya pun sangat lihai dalam membawakan programnya tak heran jika semakin hari penulis semakin jatuh cinta terhadap dunia radio.

Meski sempat memiliki minat untuk menjadi penyiar di era ’00 an penulis tak lantas mampu merealisasikannya saat itu juga. Hal yang membuat penulis semakin senang dengan radio ketika mulai berimajinasi bagaimana rupa sang penyiar dan membayangkannya hanya berdasarkan suara yang kita dengar.

Hal menarik lainnya adalah saat kita mengirimkan salam atau dulu dikenal dnegan istilah atensi, harga satu atensi (kalau tidak salah) saat itu sekitar Rp 500, tidak seperti saat ini yang langsung bisa di terima dan di baca hari ini juga atensi justru hari berikutnya baru akan dibacakan.

radio/pict google/kabarportal.com
radio/pict google/kabarportal.com

Indahnya saling menunggu dan berkabar dengan teman sejawat. Semisal “Ehh broo….. aku kirim salam untuk kalian dengerin ya jam 19.00 wita di acara night time,”begitu biasanya penulis berkabar dengan teman – teman dan begitu pun sebaliknya.

Yang menariknya lagi adalah ketika momen lupa untuk mendengarkan radio dan salamnya terlewatkan itu adalah hal indah di masa itu yang kini menjadi kerinduan.

Belum lagi saat pendengar berkirim salam dengan menggunakan nama samaran maka yang terjadi adalah semakin menambah penasaran. Terlebih pendengar yang sangat romantis penyiarnya pun tak luput dari rayuannya.

Lain dulu lain sekarang, semenjak era digital dan media sosial semakin merajai justru rasa penasaran dan keasikan dalam mendengarkan radio itu mulai memudar.

Kenapa penulis bilang memudar? Sebab dunia penyiaran sekarang ini sudah memasukkan media sosial ke dalam penyiaran, semisal wajib upload foto penyiar sebelum siaran nah justru itu akan membuat rasa penasaran menjadi sangat berkurang, bukan maksud penulis menolak hal itu (publish foto penyiar sebelum memulai siaran-red) tapi maksud penulis adalah bagaimana menjadikan sosok penyiar itu tetap menjadi “misterius” untuk pendengarnya.

Kenapa tidak cukup update status saja ? terus untuk di instagram cukuplah publish dan design poster program siaran. Jika pendengar penasaran biarkan mereka mencari tau sendiri dan bila perlu datang ke radio stationnya, setidaknya langsung kopi darat dan ngobrol terlepas dari rasa kecewa yang ditimbulkan dari imajinasi bayangan suara yang didengar terhadap realita sang penyiar idola.

Penulis sempat mengalami hal ini, bagaimana pendengar merasa “kecewa dan tak percaya” atas apa yang mereka bayangkan dari mendengar suara dan realitanya tapi disinilah letak keseruannya ketimbang kita sudah tau lebih dulu rupa dari sang idola.

Ya tapi kembali ke individu masing-masing lagi tentang dunia penyiaran dan intinya dunia radio itu memiliki segmentasi dan juga punya pasar tersendiri meski teknologi terus berkembang.

Leave a Reply