Menu 1

September 18, 2019

Sudut Bali Diperkosa Syndrom Liar

Sanur Village Festival (SVF) 2018pict by google/ kabarportal.com

Sudut-sudut Bali yang Kian Gendut
BICARA soal pulau Bali sepertinya tiada habisnya, entah sisi negatifnya ataupun positifnya. Orang Bali boleh bangga dengan kunjungan wisatawan, bahkan sebaliknya prihatin dengan Bali yang diperkosa oleh syndrom liar.

Bali boleh saja dicap maju dan berkembang dari segi teknologi dan wajahnya. Namun sadarkan orang yang tinggal di Bali terjajah? Ya, Bali dijahah.
Bali dijajah setiap sudut-sudutnya, sudut-sudut itu dihuni makelar-makelar gendut, yang selalu haus dengan dalih kemajuan Bali, entah kemajuan sisi apanya. Keasyikan makelar membuat Bali kelar (usai).

Tulisan pendek ini menurut penulis tak akan digubris, karena makelar tengah asyik mengais, namun tulisan ini dibaca saat orang yang tinggal di Bali menangis.
Budaya nyiksik bulu membuat orang bali selalu mengalah dan tak mau membuat masalah, sehingga sering lengah. Parah..!
Bali sepertinya kini kesepian ditengah suasana ramai, yang awalnya dijanjikan jadi anak emas, nyatanya ditindas.

Sungguh malang orang-orang yang tak bisa memperjuangkan Bali, sehingga orang di luar yang sebaliknya memperjuangkan Bali berdalih peduli.
Siapa yang benar peduli dengan Bali? siapa yang merasa mempunyai Bali? sepertinya tak ada lagi. Jika ada, Bali tak akan dijajah.

Benar kalimat Ir. Soekarno, “perjuangan ku lebih mudah karena hanya melawan penjajah. Sedangkan kalian akan melawan saudara sendiri”.

Selamat menikmati Bali baru, Bali yang penuh dengan orang baru, nuansa baru, karakter baru, tak kalah penting, image baru. (Riw)

Comments on Facebook