Siwaratri datang setiap setahun sekali pada malam tilem kapitu sesuai perhitungan kalender Bali dan sangat identik dengan sembahyang bersama, kumpul bareng keluarga dan merenungkan atas apa yang telah dilakukan selama ini atau kata lainnya introspeksi diri atau dalam bahasa Bali disebut mulat sarira.

Dahulu sebelum digempur teknologi yang mumpuni atau dikenal sebagai era milenial, masyarakat di desa penulis berbondong-bondong untuk sembahyang bersama dan makemit (begadang di tempat pura) biasanya hingga pukul 00.00 waktu setempat akan diadakan sembahyang bersama lalu meditasi sesuai kemampuan.

Setelah itu, warga bisa pulang atau melanjutkan ke pura dalem atau pura segara. Dahulu saat melakukan malam Suwaratri biasanya pemangku atau pemungkah agama akan memberikan cerita rakyat yang berjudul Lubdaka atau kadang juga hanya diisi dengan beberapa petuah.

Namun kini, masyarakat khususnya anak muda, mekemit tidak lagi untuk merenungkan hal apa saja yang telah diperbuat selama ini, atau tidak digunakan untuk introspeksi diri. Mereka begadang untuk dipura namun untuk bermain game, begadang untuk bisa jalan-jalan dan sebagainya.

Pergeseran yang sangat jauh dibandingkan dahulu, entah apa dan kenapa ini bisa terjadi. Mari kita sadar diri, mulatsarira, introspeksi diri untuk kebaikkan kita dan bersama. Malam Siwaratri bukan untuk menebus dosa apalagi melebur dosa, namun malam siwaratri adalah malah untuk intropeksi diri atau mulatsarira dan jadilah Lubdaka era milenial yang mengerti dan bijak.

Kisah Lubdaka

kabarportal

Follow kami Instagram/ twitter dan Facebook @kabarportal dan silahkan kontak kami untuk kerjasam melalui surel - liputan@kabarportal.com cc di kabarportalnews@gmail.com bisa juga whatsaap di 085847009080.

Comments on Facebook