Perempuan tanah jahanam/ kabarportal

Yah, akhirnya ada kesempatan menulis reviw film lagi setelah tiga film sebelumnya, Sekte, Kutuk dan Joker  yang terlewatkan. Filem Bergenre horror karya Joko Anwar “Perempuan Tanah Jahanam” mampu memaksaku untuk menuliskan pengalaman menonton film horror Indonesia yang berbeda.

Awalnya sih pesimis nonton filem Indonesia terlebih horror Indonesia, apalagi yang dibuat oleh Joko Anwar. Mengingat film sebelumnya yang berjudul “Pengabdi Setan” biasa saja.

Tapi perlu diacungi jempol, menurut Joko, film itu mulai ditulis tahun 2009 itu memang tidak sia-sia, film ini lumayan bagus dan mengerikan. Bahkan jika di bandingkan Joker dan Danur.

 Ohya perbandingan yang saya maksud dari sisi isu dan kehebohan yang berkembang di masyarakat dan tingkat kekerasan dalam adegan. Waktu film Joker tayang masyarakat heboh, dibilang penonton bisa ini dan itu karena adegannya berbahaya tapi setelah ditontonton biasa saja, bahkan adegan si Joker membunuh presenterTV saja yang menurut saya berbahaya sisanya biasa saja.

Nah coba kalian tonton Perempuan Tanah Jahanam, adegan ketika teman Rahayu (Dini) dibunuh kemudian si nenek menjemur kulitnya, hingga adegan bagian akhir si nenek dan anak yang menggorok lehernya sendiri. Itu tanpa sensor lalu adegan ranjang juga ada meski disensor, ini apik semua.

Biasanya kalau film horror yang saya ketahui pasti musiknya yang mengagetkan namun berbeda dengan film inu. Kalian mungkin tidak akan menemukan musik yang mengagetkan atau aba-aba sebelum hantu muncul.

Perempuan Tanah Jahanam bercerita tentang Maya yang diperankan Tara Basro yang ingin menelusuri misteri keluarganya. Ia tahu bahwa di sebuah desa, keluarganya meninggalkan rumah besar yang bisa dibuat jadi modal usaha.

Maya tidak sendiri. Sahabatnya yang bernama Dini yang diperankan Marissa Anita memaksa ikut meski sudah dilarang berkali-kali. Akhirnya keduanya menempuh perjalanan. Namun akhirnya Dini meninggal di desa itu.

Film ini memiliki naskah yang kuat dan matang serta tidak ada kesan paksaan. Alurnya juga tersusun rapi dari awal hingga akhir bahkan setelah tulisan berjalan bagian akhir filem dan lampu bioskop menyala, penonton pun masih duduk.

Difilm ini tidak ada adegan cowok membantu pemeran utama cewe yang ada pemeran utama cewe dibantu oleh pemeran cewe yang mana disetiap film yang aku tonton pasti kalau tak dipertengahan paling tidak akhir film ada sosok cowo yang datang membantu pemeran utama cewek untuk melepaskan diri dari belenggu.

Saya sangat terkesima dengan plot dan lokasi syuting hinga sampai saya merindukan kampung halaman yang suasananya cukup mirip. Tak percumalah saya bayar mahal untuk menonton film itu sebab ticket biokop menjelang weekend dan weekend itu tergolong mahal untuk seukuran anak kos yang tak berpenghasilan tetap seperti saya.

Dan tentu si penonton akan ikut masuk ke dalam cerita film itu terlebih bagi mereka yang menonton secara kusyuk hahahahaha…..
Dari awal hingga akhir film, ketegangan datang secara intens meski ada canda yang terselip di dalamnya.

Perbedaan yang dimiliki Perempuan Tanah Jahanam adalah tak banyak menampilkan sosok hantu, dedemit, atau pun jumpscare yang biasa jadi andalan film horor.

Fil berdurasi 106 menit ini susah ditebak karena harus menonton detail. Misterinya dibuka secara perlahan dan ini membuat semakin penasaran. Dan tentu tidak membosankan.

Saya suka film seperti ini karena susah ditebak dan penonton diajak untuk berfikir tentang cerita dan adegan demi adegan. Ketinggalan sedikit saja artinya “cerita bubar!”

Meski terbilang bagus, Perempuan Tanah Jahanam juga punya kekurangan. Salah satunya adalah logat medok dan penggunaan bahasa Jawa yang tidak konsisten. Hal ini cukup mengganggu kenyamanan dalam menyaksikan Perempuan Tanah Jahanam. Film Perempuan Tanah Jahanam sudah tayang di bioskop pada 17 Oktober 2019.

kabarportal

Follow kami Instagram/ twitter dan Facebook @kabarportal dan silahkan kontak kami untuk kerjasam melalui surel - liputan@kabarportal.com cc di kabarportalnews@gmail.com bisa juga whatsaap di 085847009080.