Kasus kematian ternak babi membuat sebagian masyarakat takut mengkonsumsi DAGING BABI yang berdampak terhadap turunnya penjualan daging babi. Selain itu adanya anggapan jika banyak babi sakit atau mati yang dijual menambah ketakutan masyarakat yang sebagian mengaku berhenti mengkonsumsi daging babi untuk sementara waktu. Bagaimana sesungguhnya? Amankah?

TIDAK hanya pedagang di pasar yang mengaku penjualannya sepi sejak adanya kasus kematian ternak babi secara masal dan mendadak. Sebagaian usaha potong hewan juga mengalami penurunan permintaan. Salah satunya diungkapkan oleh Agus Trisna, salah seorang tukang jagal di kawasan Peguyangan, Denpasar.

Dia mengaku permintaan babi potongnya menurun hingga 50 persen. Setiap harinya dia bisa memotong hingga 5 ekor, sementara saat ini hanya 2-3 ekor. “Langganan pada bilang dagingnya belum habis,” katanya.

Dari sisi kualitas daging, Agus Trisna mengaku mengambil babi dari perusahaan ternak besar yang kesehatannya dijamin. Namun ketakutan konsumen tetap memberi pengaruh terhadap pihaknya, yang membuat penjualan menurun.

MElansir dari laman Bisnis Bali, Salah seorang konsumen, Mindrawati mengakui hal tersebut. Agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, dia memilih berhenti mengkonsumsi daging babi untuk sementara. Konsumen lainnya, Agung Indi pun mengatakan hal yang sama. Dengan adanya kejadian ini, dirinya tidak berani mengkonsumsi daging babi untuk sementara waktu.

Hal ini tentunya menambah kerugian para peternak. Setelah sebelumnya banyak peternak yang menjual babinya dengan harga murah karena takut ternaknya akan mati, saat ini juga dihantui akan sulitnya menjual ternak.

Terkait dengan hal tersebut, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Verteriner, Dinas Pertanian Provinsi Bali IKG Nata Kesuma mengatakan masyarakat tidak perlu takut mengkonsumsi daging babi. Dilihat dari cara kematian ternak yang begitu cepat, dia mengatakan penyebabnya memang virus. Namun jenis virus ini tidak zoonosis atau menular kepada manusia. “Jadi masyarakat tidak perlu khawatir. Terlebih lagi jika memerhatikan saat memasak harus dengan kematangan yang sesuai, maka daging babi sangat aman untuk dikonsumsi,” terangnya.

BACA JUGA:  Cerita DWPx dan Prilaku Lainnya

Di samping itu, untuk menghindari penyebaran virus pada ternak yang membuat ternak pada mati, Nata Kesuma menyarankan agar peternak memperhatikan kebersihan kandang serta alat yang digunakan untuk menangkap babi. “Karena alat penangkapan yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, berefek terhadap penyebaran virus,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Dinas Pertanian Kota Denpasar I Gede Ambara Putra. Dia mengatakan, virus tersebut tidak terpengaruh ke tubuh manusia. Namun dia tetap mengimbau masyarakat untuk mengkonsumsi daging babi yang dimasak dengan kematangan maksimal.

Sementara itu, Kabag TU Rumah Potong Hewan (RPH) Pesanggaran, Denpasar, Agung Mayun mengatakan, untuk menghindari daging potong dari babi sakit atau mati, beberapa hal perlu diperhatikan masyarakat saat memilih daging di pasaran yaitu kualitas warna dan bau. Pertama daging yang diperoleh dari babi mati atau sakit memiliki kualitas warna yang kehitam-hitaman, sementara babi sehat memiliki kualitas warna merah dan segar. Dari sisi bau, babi sakit atau mati akan memiliki kualitas daging yang berbau.

Dia mengatakan, untuk keamanan, masyarakat yang membeli daging disarankan membeli di pedagang yang berlogo RPH Pesanggaran. Pemotongan babi di RPH sangat memperhatikan kesehatan hewan disertai pengecekan oleh dokter hewan sebelum dipotong.

Terkait dengan permintaan babi potong, Agung Mayun mengatakan, di RPH Pesanggaran tidak terjadi pengaruh yang signifikan dengan kasus kematian ternak ataupun isu ASF. “Hingga saat ini jumlah pemotongan masih seperti hari-hari biasa,” jelasnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.