Apa Itu Tugu Karang di Rumah Hindu Bali

ilustrasi Penunggun Karang/KasKus/ kabarportal
KABARPORTAL.COM - Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang Penunggun Karang atau dalam Sastra Dresta juga dikenal sebagai Sedahan Karang. Penunggun Karang biasnaya ditemui di dalam rumah yang letaknya di dekat pintu keluar rumah. Penunggun Karang atau Tugun Karang Berasal dari kata Tuhu yang mengandung arti mengetahui atau berpengetahuan.Sedangkan Karang berarti pekarangan atau halaman rumah atau juga disebut karang diri atau tubuh. Palinggih ini juga memiliki hubungan atau kaitan dengan Tepuk Kanda atau Kanda Pat yakni empat saudara spiritual manusia. Rumah khas Bali biasnaya memiliki 2 bangunan suci yang disebut sebagai Sanggah Pamerajan dan Sanggah Pengijeng Karang.Posisi dari Sedahan Karang ini sebenarnya bisa di mana saja dengan satu syarat posisi berada di teben sedangkan untuk posisi hulu ditempatkan Sanggah Kemulan kurang lebih di sisi barat laut kompleks rumah atau sisi barat bangunan “bale daja”, memiliki fungsi pelindung, penjaga, wakil dan pengasuh penghuni rumah beserta isi dari pekarangan rumah tersebut. Bangunan ini ditujukan kepada Kala Raksa atau juga dikenal dengan Bhatara Kala.[irp]
Sedahan Karang dalam Lontar Sudamala
dalam Lontar Sudamala disebutkan bahwa Sang Brahman Tuhan Yang Maha Esa, turun ke semesta dengan dua perwujudan yaitu sang hyang wenang dan sang hyang titah. Setelah itu beliau memiliki fungsi sebagai berikut:Hyang Titah menguasai alam Mistis termasuk didalamnya alam Dewa dan Bhuta kala, sorga dan neraka bergelar Bethara Siwa yang kemudian menjadi Hyang Guru, sedangkan Hyang Wenang turun ke mercapada, dunia fana ini berwujud semar atau dalam susatra bali disebut Malen, yang akan mengemban dan mengasuh isi dunia ini.[irp]Dalam aplikasinya, Hyang Titah berstana di “hulu” yaitu komplek Sanggah pemerajan, sedangkan Hyang Wenang berstana di “Teben” yaitu di komplek Bangunan Perumahan berupa sedahan karang. Mengenai bentuk bangunan juga menyerupai penokohan yang berstana didalamnya.Sedangkan sedahan karang bentuknya menyerupai bentuk pewayangan “Malen” yaitu sederhana tapi kekar dengan atasan menyerupai hiasan “kuncung” seperti bentuk ornament kepala dari wayang semar.Sedahan Karang dalam Lontar Kala Tatwa
Dalam lontar Kala Tattwa disebutkan bahwa Ida Bethara Kala bermanifestasi dalam bentuk Sedahan Karang/ Sawah/ Abian dengan tugas sebagai Pecalang, sama seperti manifestasi beliau di Sanggah Pamerajan atau Pura dengan sebutan Pangerurah, Pengapit Lawang, atau Patih.Di alam madyapada, bumi tidak hanya dihuni oleh mahluk-mahluk yang kasat mata, tetapi juga oleh mahluk-mahluk yang tidak kasat mata, atau roh. Roh-roh yang gentayangan misalnya roh jasad manusia yang lama tidak di-aben, atau mati tidak wajar misalnya tertimbun belabur agung (abad ke 18) akan mencari tempat tinggal dan saling berebutan. Untuk melindungi diri dari gangguan roh-roh gentayangan, manusia membangun Palinggih Sedahan.[irp]Karena fungsinya sebagai Pecalang, sebaiknya berada dekat pintu gerbang rumah. Jika tidak memungkinkan boleh didirikan di tempat lain asal memenuhi aspek kesucian. Dalam kala tatwa juga disinggung mengenai lahirnya Dewa Kala yang merupakan cikal bakal dari Sedahan Karang, dimana Dewa Kala dikatakan lahir saat dina kajeng klion nemu dina saniscara yang dibali dengan istilah “tumpek”.Jadi baiknya disarankan agar odalan Sedahan Karang disesuaikan dengan hari kelahiran dari Dewa yang berstana disana yaitu saat “tumpek”. Untuk itu silahkan dipilih Tumpek yang mau dijadikan odalan Sedahan Karang dari sekian banyak hari raya Tumpek dibali untuk menghormati keberadaan Dewa Kala.Sedahan Karang dalam Lontar Asta Kosala Kosali dan Asta Bhumi
1 dari 2 halaman
