Apakah Cuntaka atau Datang Bulan Boleh Sembahyang ke Pura?

Pura Besakih/ kabarportal
DENPASAR, KABARPORTAL.COM - Berikut merupakan penjelasan tentang apakah wanita haid, datang bulan atau cuntaka boleh melakukan persembahyangan?
Pertanyaan itu selalu muncul hingga saat ini dan menimbulkan berbagai persepsi.
Theologi Hindu menyebutkan bahwa Tuhan atau Hyang Widhi bersifat Wyapi Wayapaka Nirwikara.
Di mana Tuhan ada dimana-mana dan tidak terpengaruh dengan hal yang ada.
Begitupun dalam Svetra Upanisad VI.II, menguraikan sebagai berikut:
Eko dam saroa bhutesu gudas
Sarva vyapi saiva bhintantar-atma
Karmadhyaksas sarva bhuta drivassas
Saksi ceta kevalo nirgunasca.
Artinya:
Tuhan yang tunggal sembunyi (ada) pada semua makhluk,
Menyusupi segala inti hidupnya semua mahluk,
Hakim semua perbuatan yang berada pada semua makhluk,
Saksi yang mengetahui, yang tunggal, bebas dari kualitas apapun.
Dari situs Parisada Hindu Dharma atau PHDI yang ditulis oleh I Gede Sudarsana, dijelaskan bahwa bagaimanapun kondisi umat baik dalam suci ataupun cuntaka atau ketika tengah datang bulan tidak akan memberikan dampak pada keberadaan Tuhan yang maha suci.
Sehingga dengan demikian, apapun kondisi umat maka aktivitas sembahyang (Tri Sandhya) masih bisa dilakukan.
Namun dalam kondisi ini (cuntakan atau datang bulan) umat tidak diijinkan masuk ke dalam tempat suci atau pura.
Kemudian saat cuntakalah kita lebih intensif bersembahyang/ mendekatkan diri pada Tuhan, sebab saat itu tentunya membutuhkan tuntunan dan pertolongan Tuhan agar kita bisa mengendalikan ketidaksetabilan tersebut.
Dalam Hindu, ada dua cara untuk memuja Tuhan yang dikenal dengan sebutan Niwerti Marga dan Prawerti Marga.
Kemudian saat kondisi cuntaka atau datang bulan bisa menggunakan cara Niwerti Marga.
Di mana Niwerti Marga adalah memuja Tuhan dengan cara jala ke dalam diri yakni dengan melakukan manasa japa, mengulang mantra suci dalam hati.
Puja Tri Sandhya bisa dilakukan di dalam kamar sendiri dan di kelas atau di kantor saat kondisi sedang cuntaka atau datang bulan.
Lalu Prawerti Marga adalah memuja Tuhan dengan maju keluar dari dirinya. Bergerak kedepan di luar diri itu berarti mengarahkan pemujaan kepada Tuhan dengan media bhuana agung/alam semesta raya di luar diri kita, ini berarti melakukan pemujaan dengan menggunakan media tempat suci yang sejatinya merupakan simbol alam semesta itu sendiri yang merupakan sthana dari Tuhan, yaitu dengan cara memuja Tuhan ke tempat-tempat suci, (pura).

