Bayuh Oton, Lahir Paing Menggunakan 12 Kelebutan dan Wraspati Menggunakan Sesayut

Nengah NW/ YouTube/ Kabarportal
DENPASAR, KABARPORTAL.COM - Ritual Bayuh Oton tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual umat Hindu di Bali. Setiap individu menjalaninya untuk membersihkan diri dari energi negatif yang dibawa sejak lahir, sehingga hidup berjalan lebih harmonis dan penuh kedamaian.
Penekun lontar Ida Bagus Putra Manik Ariana menguraikan asal-usul istilah Bayuh Oton. Kata "bayuh" mencakup makna bagi, bayar, bahaya, membagi, dan ayu. Sementara "oton" merujuk pada weton atau hari kelahiran. "Baya berasal dari 'mayah', penguasa spirit kehidupan. Setiap hari lahir pasti terkait dewa atau kala, jadi kita perlu berbagi untuk menyeimbangkannya," katanya.
Pelaksanaan Bayuh Oton biasanya bertepatan dengan otonan, peringatan hari kelahiran berdasarkan siklus 210 hari dari perhitungan uku, saptawara, dan pancawara. Tujuannya sederhana: mempersembahkan upakara agar hal buruk berubah menjadi baik, menghilangkan rintangan, dan membawa kerahayuan.
Menurut Ariana, Bayuh Oton terbagi dalam lima jenis sarana utama. Pertama, sarana mantra. Ini melibatkan pengucapan mantra seperti Siwa Gemana, Uma Gemana, Gangga Gemana, Bharuna Gemana, Wana Gemana, dan Giri Gemana. Bagi yang terbatas secara ekonomi, cukup merapal mantra sederhana pada hari kelahiran untuk membersihkan diri.
Kedua, sarana logam. Setiap hari kelahiran punya logam khusus: Redite (Minggu) pakai emas sebagai lambang Surya; Soma (Senin) pakai slaka untuk Candra; Anggara (Selasa) pakai gangsa untuk api; Budha (Rabu) pakai besi untuk tanah; Wrhaspati (Kamis) pakai perunggu untuk guntur; Sukra (Jumat) pakai tembaga untuk sabeh; Saniscara (Sabtu) pakai timah untuk angin.
Ketiga, sarana batu permata. Ini disesuaikan dengan kombinasi pancawara. Contoh, Redite Umanis pakai socania osadi seperti zamrud, giok, peridot, atau chrysoberyl cat’s eye. Redite Pahing pakai ruby atau sapphire. Redite Paing pakai garnet. Redite Wage pakai amethyst atau yellow sapphire. Redite Kliwon pakai yellow sapphire, peros, dan lainnya.
Keempat, sarana tirta panglukatan. Air suci ini juga bervariasi: Umanis pakai 18 toya kelebutan; Pahing pakai 12; Paing pakai 8; Wage pakai 6; Kliwon pakai 14.
Kelima, sarana bebantenan. Sesayut disesuaikan hari: Redite pakai Kusuma Jati; Soma pakai Cittarengga; Anggara pakai Wirakusuma; Budha pakai Purnasuka; Wrhaspati pakai Kusumagadhawati; Sukra pakai Liwet Raja Bira; Saniscara pakai Kusumayudha. Ariana menambahkan, bebantenan bisa disesuaikan kemampuan, dari alit hingga agung.

