Memahami Makna dari Siwaratri, Malam Perenungan Dosa dengan Kisah Lubdaka

 Memahami Makna dari Siwaratri, Malam Perenungan Dosa dengan Kisah Lubdaka

ilustrasi Dewa Siwa/ ankit_dandhare/ Pixabay

KABARPORTAL.COM – Berikut adalah penjelasan singkat tentang Siwaratri yang datang setiap 1 tahun sekali. Tepatnya pada Wuku Langkir, Saptawara Sukra, dan Pancawara Umanis.

Siwaratri datang sehari sebelum Tilem Kapitu dan pada tahun ini hari yang identik dengan Dewa Siwa ini bertepatan dengan Pujawali Bhatara Sri.

Siwaratri dibagi menjadi 2 kata yakni Siwa dan Ratri. Dalam bahasa Sansekerta, Siwa berarti baik hati, membahagiakan dan juga memberi harapan.

Baca Juga:  5 Rekomendasi Pura untuk Melaksanakan Malam Siwaratri

promo pembuatan website bulan ini

Selain itu, Siwa juga manifestasi dari Tuhan sebagai pelebur. Sedangkan kata Ratri memiliki maksa malam atau kegelapan.



Sehingga bisa disimpulkan jika Siwaratri merupakan malam pemujaan Siwa atau peleburan kegelapan. Siwaratri begitu identik dengan kisah sang lubdakan yakni seorang pemburu yang akhirnya berhasil masuk surga.

Saat Siwaratri dipercaya bahwa Dewa Siwa tengah bersemedi. Saat inilah umat merenungkan kembali akan perbuatan yang telah dilakukan sehingga ke depan tidak lagi melakukan segala perbuatan kegelapan.

Dalam menjalankan Siwaratri ada beberapa langkah menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing.



Baca Juga:  Apa Itu Otonan di Bali, Banten dan Doanya

Ini juga dikenal sebagi Tri Brata Siwaratri yakni ofa Brata, Upawasa dan Jagra. Mona Brata merupakan pengendalian diri dalam bentuk kata-kata atau juga berdiam diri hingga tidak berbicara.

Upawasa berarti puasa atau tidak makan. Ini juga berarti menjalani proses pengendalian diri dari keterikatan duniawi. Upawasa ini dilakukan selama 24 jam dan menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Jagra berarti sadar atau juga disebut tidak tidur hingga pagi menjelang yang disertai dengan pemujaan kepada Siwa.

Baca Juga:  Selamat! Penny Claudine Terpilih Sebagai Ketua Umum DPP AHLI periode 2023-2027

Jagra juga dikaitan sebagai pengendalian diri atau tetap untuk mawas diri dan berlangsung selama 36 jam atau menyesuaikan dengan kemampuan diri.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa Siwaratri identik dengan kisah Lubdakan. Kisah ini ditulis oleh Empu Tanakung yang mengisahkan tentang sorang pemburu binatang bernama Lubdaka.

Semasa menjalani hidupnya, Lubdaka memiliki banyak dosa lantaran telah membunuh banyak binatang yang tak bersalah.

Suatu hari sang Lubdaka melakukan perburuan seperti biasanya. Dimana sejak pagi hari hingga malam menjelang, tak satupun buruan yang ia dapatkan.

Perjalanan Lubdakan terhenti lantaran langit sudah malam dan dia masih berada di tengah hutan. Sejak dia berjalan pagi hingga malam menjelang, Lubdakan pun tidak makan, tidak berbicara

Baca Juga:  Rekomendasi Pantai Hits di Karangasem Update 2024

Kemudian dia memilih untuk tinggal di atas sebuah pohon besar hingga pagi menjelang.

Ini dia lakukan untuk menghindari serangan dari hewan liar. Meski telah berada di atas pohon yang cukup tinggi dan besar, perasaan takut Lubdakan masih menghantui.

Pohon besar itu diketahui bernama pohon bila, akhirnya Lubdaka pun memutuskan untuk tidak tidur hingga pagi menjelang.

Untuk mengusir rasa kantuknya, Lubdakan kemudian memetik sati demi satu daun bila dan membuangnya ke bawah.

Di bawah Pohon Bila yang besar itu terdapat air telaga yang jernih, dengan sebuah pelinggih dan Lingga. Meski telah berada di atas pohon, nyatanya rasa takut itu masih ada dan akhirnya ia pun memutuskan untuk memetik daun Pohon Bila satu demi satu dan menjatuhkannya tepat di bawahnya.

Tanpa disadari, malam itu merupakan malam Siwaratri yang mana diketahui saat itu Dewa Siwa dipercaya tengah melakukan yoga.

Saat sedang melakukan aktivitas memetik daun, ia teringat akan dirinya yang merupakan seorang pemburu. Ia teringat akan perbuatan jahat yang pernah ia lakukan baik secara sengaja atau pun tidak selama masa hidupnya.

Bahkan hingga pagi menjelang, ia tidak juga habis mengingat kesalahan apa saja yang telah dibuat selama hidupnya.

Baca Juga:  Kode Redeem Terbaru Game Seal M Jumat, 16 Juni 2023, Klaim Sekarang Juga

Akhirnya semenjak itu ialah ia bertekad untuk berhenti menjadi seorang pemburu. Sejak saat itu, Lubdakan memilih untuk menjadi petani, tapi petani tidak memberinya banyak kegesitan gerak, sehingga tubuhnya mulai kaku dan sakit, yang bertambah parah dari hari ke hari.

Hingga, akhirnya hal ini membuat Lubdaka meninggal dunia. Roh Lubdaka, setelah lepas dari jasadnya, melayang-layang di angkasa. Roh Lubdaka bingung tidak tahu jalan harus ke mana.

Pasukan Cikrabala kemudian datang hendak membawanya ke kawah Candragomuka yang berada di Neraka. Di saat itulah, Dewa Siwa datang mencegah pasukan Cikrabala membawa roh Lubdaka ke kawah Candragomuka.

Baca Juga:  4 Tirta Sakti di Pura Pemuteran, Bisa untuk Nunas Keturunan

Menurut pasukan Cikrabala, roh Lubdaka harus dibawa ke neraka. Ini disebabkan, semasa ia hidup, ia kerap membunuh binatang. Namun Dewa Siwa berkata lain, Beliau mengatakan bahwa, walaupun Lubdaka kerap membunuh binatang, tapi pada suatu malam di malam Siwaratri, Lubdaka begadang semalam suntuk dan menyesali dosa-dosanya di masa lalu.

Sehingga, roh Lubdaka berhak mendapatkan pengampunan. Akhirnya, roh Lubdaka dibawa ke Siwa Loka. ***

0 Reviews

Write a Review

ikuti kami di Google News

0 Reviews

Write a Review

Baca Juga:

error: Content is protected !!