Mengenal Soma Pemacekan Agung dan Banten yang Digunakan

 Mengenal Soma Pemacekan Agung dan Banten yang Digunakan

 

KABARPORTAL.COM – Berikut adalah makna dari Soma Pemacekan Agung datang setiap Soma Kliwon Wuku Kuningan.

Soma Pemacekan Agung juga dikenal sebagai rainan yang cukup keramat.

Dipercaya pada saat Soma Pemacekan Agung merupakan pertemuan untuk mereka yang mempelajari ilmu aji pengiwa.

promo pembuatan website bulan ini

Kemudian, apa sebenarnya makna dari Soma Pemacekan Agung, banten apa yang digunakan untuk melaksanakan Soma Pemacekan Agung? Dalam artikel ini akan dibahas tentang makna dari Soma Pemacekan Agung beserta banten yang digunakan.



Baca Juga:  Apakah Boleh Melaksanakan Pembayuhan di Grya?

 

Saat rainan Soma Pemacekan Agung dilaksanakan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Sang Hyang Pramaswara.

Lontar Dharma Kahuripan menyebutkan sebagai berikut:



“Pamacekan Agung nga, panincepan ikang angga sarira maka sadhanang tapasya ring Sanghyang Dharma”.

Artinya:

Pemacekan Agung, namanya demikian adalah pemusatan diri dengan sarana tapa kepada Sanghyang Dharma.

Baca Juga:  Penjelasan Tentang Nasi Kuning saat Kuningan

 

Kemudian, Lontar Sundarigama juga menyebutkan tentang Soma Pemacekan Agung sebagai berikut:

Soma Kliwon, pemancekan agung ngaran, masegeh agung ring dengen, mesambleh ayam samalulung, pakenania. Ngunduraken sarwa bhuta kabeh.

Artinya yaitu:

Soma Kliwon (Kuningan) disebut dengan Pemacekan Agung. Pada sore harinya, umat Hindu patut mempersembahkan segehan agung di depan pintu keluar rumah yang dilengkapi sambleh ayam semalulung yang disuguhkan kepada Sang Bhuta Galungan beserta pengiringnya agar kembali ke tempatnya.

Baca Juga:  Banten Saraswati dan Cara Pelaksanaannya

 

Di hari soma pemacekan agung biasanya dilakukan persembahyangan memuja Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Sang hyang Prameswara.

Banten yang digunakan untuk melaksanakan Soma Pemacekan Agung berupa segehan di depan rumah serta di muka pintu pekarangan yang ditujukan kepada Sang Kala Tiga Galungan berserta pengiringnya.

Secara filosofis Pemacekan Agung mengandung makna bahwasanya hari ini manusia diingatkan agar ‘kemenangan’ yang telah ia peroleh melalui pertempuran melawan adharma dijadikan sebagai ‘tonggak’ kebangkitan kesadaran diri, sebagai ‘pengukuhan’ komitmen untuk selalu menjaga martabat kemanusiaan, dan menghindarkan diri dari ‘momo angkara’.

Baca Juga:  Fakta Menarik Kuningan di Bali, Nasi Kuning, Tradisi Mekotek hingga Sembahyang Sebelum Pukul 12 Siang

 

Kemudian, tujuan dari Soma Pemacekan Agung adalah mengembalikan Sang Bhuta Galungan beserta para pengikutnya.

Ini juga menjadi penanda batas antara awal dan juga akhir dari kegiatan Galungan yakni 30 hari ke muka dan 30 hari ke belakang yang mana dimulai dari Tumpek Wariga hingga Budha Keliwon Pahang.

Baca Juga:  Banten Tumpek Wayang, Ini Kisah dan Maknanya

 

Sumber lain jug amenyebutkan bahaw Soma Pemacekan Agung memiliki tujuan mengembalikan Sang Bhuta Galungan dan pengikutnya kembali ke asalnya.

Pun disebutkan umat menyuguhkan segehan agung memakai penyambleh ayam samalulung dan dilaksanakan pada sore hari di depan pintu masuk pekarangan atau lebuh. ***

ikuti kami di Google News

0 Reviews

Write a Review

ikuti kami di Google News

0 Reviews

Write a Review

Baca Juga:

error: Content is protected !!