Hasil SKHDN Bali, Nyepi Tahun 2026 Digelar Seperti Sebelum Tahun 1981

Ogoh-ogoh menjadi salah satu ciri khas ketika Nyepi, Ogoh-ogoh diarak pada saat Tilem Kesanga atau Pengrupukan/ Windi Eka Setiawan/ Flicker/ Kabarportal
DENPASAR, KABARPORTAL.COM - Pelaksanaan Hari Raya Nyepi di Bali akan dikembalikan sesuai tradisi lama, yakni dilaksanakan bertepatan dengan Tilem Kasanga. Ketentuan ini mengacu pada pakem sebelum tahun 1981, ketika Nyepi belum mengalami pergeseran waktu pelaksanaan.
Selama lebih dari empat dekade terakhir, Nyepi dilaksanakan sehari setelah Tilem Kasanga atau pada apisan Sasih Kadasa. Pola tersebut kini akan ditata ulang berdasarkan kesepakatan dan kajian mendalam yang merujuk pada sumber-sumber lontar Bali.
Rencana pengembalian pelaksanaan Nyepi ini menjadi salah satu poin penting dalam Pasamuhan Agung Sabha Kretha Hindu Dharma Nusantara (SKHDN) Pusat Tahun 2025. Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa, 30 Desember 2025, bertempat di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali.
Ketua Umum SKHDN Pusat, Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pamayun, menjelaskan bahwa sebelum 1981, umat Hindu di Bali secara konsisten melaksanakan Nyepi tepat saat Tilem Kasanga. Hal itu tercantum jelas dalam sejumlah lontar klasik, di antaranya Lontar Sundarigama, Kuttara Kanda, dan Batur Kalawasan.
Dalam lontar-lontar tersebut, Nyepi disebut dilaksanakan pada panglong ping molas kresna paksa atau fase Tilem. Ketentuan itu menjadi dasar kuat secara sastra dan spiritual dalam penetapan kembali pelaksanaan Nyepi sesuai warisan leluhur Bali.
“Salah satu keputusan pasamuhan adalah mengembalikan pelaksanaan Nyepi seperti sebelum tahun 1981, sebagaimana tradisi Bali sejak ribuan tahun lalu. Perubahan pada 1981 merupakan kebijakan yang ditetapkan saat itu,” ujar Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pamayun.
Sementara itu, rangkaian upacara tawur kesanga dan pangerupukan tetap dilaksanakan sehari sebelumnya, yakni pada panglong catur dasi atau purwani Tilem Kasanga. Skema ini mengikuti urutan upacara sebagaimana tercatat dalam pustaka lontar.
Gubernur Bali, Wayan Koster, menyatakan dukungannya terhadap hasil pasamuhan agung tersebut. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali siap mengawal keputusan keagamaan yang telah dikaji secara mendalam dan bersumber dari sastra Hindu Bali.
“Dulu Nyepi memang dilaksanakan saat Tilem. Dalam perkembangannya, tawur dilakukan saat Tilem dan Nyepi keesokan harinya. Jika sekarang dikaji kembali, tentu akan dibahas lebih lanjut oleh para sulinggih,” kata Koster.

