swipe up
[modern_search_box]

Profil I Wayan Sugita, Maestro “Patih Agung” yang Gigih Lestarikan Drama Gong Bali

 Profil I Wayan Sugita, Maestro “Patih Agung” yang Gigih Lestarikan Drama Gong Bali

Paman Patih Agung “Wayan Sugita” Drama Gong Lawas/ kabarportal

DENPASAR, KABARPORTAL.COM - Seni drama gong, salah satu warisan teater tradisional Bali yang memadukan dialog berbahasa Bali dengan iringan gamelan gong kebyar, pernah berjaya di era 1980-an. Kala itu, pertunjukan drama gong memenuhi panggung-panggung desa hingga kota, menghibur ribuan penonton dengan cerita romantis klasik seperti Malat atau Sampek Engtai.

Namun, seiring munculnya hiburan modern, seni ini perlahan meredup. Banyak seniman terpaksa meninggalkan panggung, dan kelompok-kelompok sekaa drama gong pun bubar.

Di tengah tantangan itu, I Wayan Sugita muncul sebagai sosok yang teguh mempertahankan eksistensi drama gong. Seniman kelahiran Gianyar, 8 Mei 1965, ini dikenal luas sebagai pemeran ikonik Patih Agung, karakter antagonis yang selalu berhasil membuat penonton geram. Aktingnya begitu mendalam hingga caci maki dari audiens justru menjadi bukti keberhasilan dia menghidupkan peran tersebut.

Perjalanan Sugita di dunia drama gong dimulai pada 1984. Saat itu, ia bergabung dengan Sekaa Drama Gong Saraswati, mewakili Kabupaten Gianyar di Pesta Kesenian Bali (PKB), dan meraih juara kedua. Pengalaman itu membakar semangatnya untuk terus mendalami seni ini.

promo pembuatan website bulan ini



Ia kemudian bergabung dengan berbagai sekaa ternama, seperti Panjamu Asrama, Wira Bhuana – yang melahirkan bintang-bintang seperti Rawit, Suratni, dan Jero Madyayani –, Kerthi Bhuana, serta Bintang Remaja Gianyar.

Prestasi gemilang diraihnya bersama Bintang Remaja Gianyar pada PKB 1993, dengan merebut juara pertama mewakili Gianyar. Sugita juga membawa Sekaa Drama Gong Bandana Budaya menjadi juara kedua pada 1994, serta membina grup duta Kota Denpasar yang meraih juara pertama di PKB 1995. Pada 1997, ia mendirikan Sekaa Drama Gong Sancaya Dwipa Milenium bersama almarhum Wayan Tarma (Dolar), yang aktif hingga 2002.

Memasuki era 2000-an, Sugita menyadari popularitas drama gong semakin menurun. Ia tak tinggal diam. Untuk menjaga kelestarian seni ini, ia membentuk Sekaa Demen Ulian Tresna (Sekdut), sebuah wadah yang menggabungkan drama gong dengan elemen lain seperti bondres, prembon, peguyuban lawak, calonarang, dan MC berbahasa Bali. Sugita juga menjabat sebagai Ketua Sanggar Seni Puspa Kencana di Denpasar, tempat ia terus melatih generasi muda.

1 dari 2 halaman

Tim Kabarportal

Baca Juga: