Tidak Hanya Mencabut Penjor, Ini Saranan yang Digunakan untuk Rahinan Pegat Uwakan

ilustrasi gambar penjor oleh Kuuan/ Flicker
DENPASAR, KABARPORTAL.COM - Masyarakat Hindu di Bali merayakan Pegatwakan sebagai hari raya yang menandai berakhirnya serangkaian perayaan Galungan dan Kuningan. Ritual ini, yang juga disebut Pegat Uwakan, jatuh pada hari Buda Kliwon Wuku Pahang. Pegatwakan datang tepat 35 hari setelah Galungan, membawa pesan penutupan tapa brata yang telah dijalani umat.
Inti dari Pegatwakan terletak pada pencabutan penjor. Tiang bambu melengkung yang dihiasi janur, daun muda kelapa, buah-buahan, kue, dan kain itu selama ini berdiri megah di depan rumah sebagai lambang kemenangan dharma atas adharma. Umat mencabut penjor dengan penuh hormat.
Setelah dicabut, semua hiasan penjor dilepas dan dibakar dalam api suci. Abu hasil pembakaran dikumpulkan, lalu dimasukkan ke dalam kelapa gading muda atau nyuh gading yang sebelumnya telah diberi harum kasturi. Kelapa itu kemudian ditanam di pekarangan rumah, sering di tempat asal penjor atau area suci lainnya.
Makna mendalam Pegatwakan tercantum dalam Lontar Sundarigama. Naskah kuno itu menyebutkan:
"Pahang, Buda Kliwon Pegatwakan, ngaran, pati warah panelasning mengku, biana semadi, waraning Dungulan ika, wekasing perelina, ngaran kalingan ika, pakenaning sang wiku lumekasang kang yoga semadi, umoring kala ana ring nguni, saha widi-widana sarwa pwitra, wangi-wangi, astawakna ring sarwa dewa, muang sesayut dirgayusa abesik, katur ring Sang Hyang Tunggal, panyeneng tatebus."
Terjemahan bebasnya: Pada Buda Kliwon Pahang adalah Hari Raya Pegatwakan. Hari ini disebut sebagai akhir dari tapa brata. Para wiku atau pemuka agama melaksanakan renungan suci dengan sarana persembahan wangi-wangian serta sesayut dirgayusa abesik. Semua itu dipersembahkan kepada Sang Hyang Tunggal, dilengkapi penyeneng dan tetebusan.
Lontar Sundarigama juga menegaskan bahwa Pegatwakan berarti putusnya perkataan atau akhir dari janji suci yang diucapkan selama periode Galungan-Kuningan.
Doa atau mantra yang digunakan dalam proses menjalankan Buda Wage Pahang (Pegatwakan) ada dua sebagai berikut:
Om pakulun sanghyang sapta patala,
sira sanghyang sapta dewata,
sira sanghyang beda warna,
sira sanghyang tri nadi panca korsika,
sira sanghyang premana,
mekadi ta sira saghyang urip,
sira apageha ri sariraning rahayu,

