Sejarah Janger Kolok Desa Bengkala, Tari Unik asal Bali Utara

 Sejarah Janger Kolok Desa Bengkala, Tari Unik asal Bali Utara

salah satu gerakan Tari Janger Kolok/ BNPB/ kabarportal

Daftar Isi

 

KABARPORTAL.COM – Mengenal Janger Kolok asal Desa Bengkala yang unik. Terletak di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Desa Bengkala juga dikenal dengan sebutan Desa Kolok.

Kolok yang dalam bahasa Indonesia berarti bisu disematkan pada desa ini karena sebagian besar warganya mengalami bisu dan juga tuli.

Terkait hal penyebab dari kolok dan tuli yang dialami sebagain besar warga Bengkala, mitos menyebutkan bahwa hal itu berkaitan dengan Raja Sri Maharaja Jayapangus yang berkuasa antara 1178 hingga 1181.

Baca Juga:  Ikosharold Suites Seminyak, Berikan Pengalaman Menginap yang Tak Terlupakan

promo pembuatan website bulan ini

Selain itu, ada juga yang menyebutkan bahwa itu merupakan sebuah kutukan. Ada juga sebuah fakta yakni pasangan Kolok yang berkeluarga namun anaknya tidak tuli begitu juga sebaliknya.



Lain dari itu, Desa Bengkala juga memiliki sebuah potensi budaya yang bahkan sudah dikenal hingga ke mancanegara.

Tari Janger Kolok. 

Janger Kolok bahkan selalu ditampilkan pada Pesta Kesenian Bali atau PKB, dimana seluruh penari dari Janger Kolok merupakan warga Desa Bengkala yang memakai bahasa insyarat.

Baca Juga:  Rekomendasi Merayakan Lebaran di Ubud

Dan inilah yang membedakan dengan Tari Janger pada umumnya. Sebuah jurnal, karya dari Ketut Kanta menyebutkan bahwa Tari Janger Kolok diketahui ada sejak tahun 1969.



Almarhum Wayan Nedeng merupakan pencipta dari Tarian Janger Kolok Desa Bengkala. Dia adalah warga asli Desa Bengkala yang sekaligus pendiri dari Sekaa Janger Kolok, 1967.

Awalnya, Sekaa Janger Kolok ini dibentuk sebagai bentuk kesetaraan antara kelompok disabilitas dengan warga pada umumnya.

Baca Juga:  Suka Liat Sunset atau Snorkeling? Lagi di Buleleng? Berikut Rekomendasi Pantai yang Wajib Dikunjungi

Bedanya, Tarian Janger Kolok menggunakan bahasa isyrat sebagai pengganti nyanyian. Selain itu, Almarhum Wayan Nedeng juga menyelipkan seni bela diri ke dalam tarian Janger Kolok.

Selayaknya Tarian Janger yang ditarikan oleh orang normal, Tarian Janger Kolok ini juga masuk dalam tarian pergaulan atau hiburan.

Dalam Janger Kolok juga menampilkan gerakan Tari Kecak yang dipadukan dengan gerakan Pencak Silat. Adapun busana atau pakaian dari Penari Janger Kolok ada dua yakni era 1970 hingga 1980 menggunakan, kebaya, selendang, dan kamen untuk penari. Sedangkan Udeng dan kamen digunakan untuk penari kecak.

Baca Juga:  4 Tirta Sakti di Pura Pemuteran, Bisa untuk Nunas Keturunan

Namun seiring perkembangan, busana atau pakaian penari Janger Kolok pun mengalami perubahan yakni Janger mengenakan busana seperti : gelungan janger, badong, sabuk perada, tutup dada, kamen, oncer dan ampok-ampok.

Aksesoris yaitu subeng dan perlengkapan lainya yang digunakan janger adalah kepet. Sedangkan kecak mengenakan busana terdiri dari: udeng, baju kecak, celana kecak, sabuk perada, ampok-ampok, badong, gelang kana dan udeng.

Baca Juga:  Sejarah Singkat Danau Buyan Buleleng, Bali dari Memancing hingga Lagu

Urutan gerak Tari Janger Kolok yang meliputi gerak kecak antara lain : pangawit, nayog, ngeseh dan nuding. Gerak Janger antara lain: ngagem kanan, ngagem kiri, nyeleog, ngeliput,ngegol ngileg-ngileg, nyeledet, dan nyakup bawa. Pola lantai dalam tari yaitu : Pembukaan, papeson, pejangeran, lakon, dan pakaad. Alat musik pengiring dalam tari adalah kendhang

Baca Juga:  Selain Pesta Kesenian Bali, Pasar Seni Juga Jadi Incaran Wisatawan, Yuk Simak

Itulah sejarah singkat tentang Janger Kolok Desa Bengkala. ***

0 Reviews

Write a Review

ikuti kami di Google News

0 Reviews

Write a Review

Baca Juga:

error: Content is protected !!