swipe up
[modern_search_box]

Lebur Segala Mala (Negatif) Melukat di Beji Waringin Pitu Cukup Membawa Bungkak dan Canang

 Lebur Segala Mala (Negatif) Melukat di Beji Waringin Pitu Cukup Membawa Bungkak dan Canang

Pura Beji Waringin Pitu: Oase Pembersihan Diri di Tepi Tukad Penet, Badung/ google maps/ kabarportal

MANGUPURA, KABARPORTAL.COM - Berlokasi di Banjar Celuk, Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, tempat ini menjadi salah satu destinasi favorit umat Hindu untuk melakukan ritual melukat atau pengruwatan. Aksesnya mudah, hanya sekitar 15 menit dari Pura Taman Ayun atau sekitar 4-5 km dari pusat Mengwi, dengan jalan aspal hingga area parkir.

Nama Beji Waringin Pitu berasal dari kata Bali: "beji" artinya tempat pemandian suci, "waringin" merujuk pada pohon beringin besar yang masih berdiri kokoh di selatan areal, dan "pitu" berarti tujuh—sesuai dengan jumlah pancuran yang ada.

Dulunya, lokasi ini dilindungi tujuh pohon beringin, meski banjir bandang menyisakan satu batang saja. Pancuran-pancuran ini mengalir jernih dari tiga sumber mata air utama (timur, utara, selatan) ditambah satu dari bawah tanah, menciptakan debit air yang berbeda-beda di setiap pancuran.

Kompleks pura Beji Waringin Pitu berada di tingkat atas, dengan dua pelinggih utama sebagai stana Ida Bhatara Wisnu sebagai Dewa Pemelihara—dilambangkan dengan aliran air dan Padmasana—serta satu semanggen.

promo pembuatan website bulan ini



Di bagian tengah, terdapat mata air kelembutan yang menjadi tempat pemujaan Dewi Gangga (atau Batari Manik Galih), dewi yang diyakini mampu pelebur segala penyakit dan kotoran melalui wujud air. Arca Dewi Cantik di atas mata air itu menjadi simbol kuat kekuatan penyembuhan.

Ida Bagus Ngurah Suparsa, pemangku setempat yang akrab disapa Gus Ngurah, menjelaskan bahwa ritual melukat di sini bisa dilakukan kapan saja, meski umat paling ramai datang pada hari-hari baik seperti Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, atau saat Otonan.

Prosesnya dimulai dengan mandi di tujuh pancoran, membersihkan organ tubuh sesuai simbol aksara suci di masing-masing pancuran—melambangkan pembersihan tujuh lubang tubuh secara ragawi.

Selanjutnya, ritual berlanjut di tirtha kelembutan dengan pengelukatan menggunakan air dari bungkak nyuh gading dan bungkak nyuh gadang, serta bunga sembilan warna: kamboja merah, kamboja putih, kamboja kuning, mawar merah, mawar putih, sandat, cempaka kuning, cempaka putih, dan teratai.



Tahap ini membersihkan secara niskala, melengkapi pembersihan fisik sebelumnya. Setelah selesai, umat naik ke pura untuk persembahyangan, memohon keselamatan, kesehatan, dan berkah dari Ida Bhatara Wisnu.

1 dari 2 halaman

Tim Kabarportal

Baca Juga: