Peninggalan Raja Udayana dan Prabu Airlangga Sejak 977 M, Ini Dia Tempat Melukat Petirtaan Jolotundo

Ini Dia Tempat Melukat Petirtaan Jolotundo/ Google Maps/ kabarportal
MOJOKERTO, KABARPORTAL.COM -
Petirtaan Jolotundo merupakan situs keagamaan Hindu yang berada di lereng Gunung Penanggungan, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Tempat ini dikenal sebagai lokasi penyucian diri atau “padusan” dengan sumber air yang mengalir dari kawasan lereng gunung tersebut.
Bangunan petirtaan berbentuk kolam luas dari batu andesit dengan denah persegi berukuran sekitar 18 x 12 meter. Di kompleks ini terdapat tiga kolam yang dikelilingi pancuran air. Sumber air keluar melalui dinding-dinding candi yang masih kokoh dan berhias relief, kemudian ditampung pada teras-teras sehingga membentuk kolam tengah. Pancuran-pancuran air tersusun dari sisi kiri hingga kanan dan bermuara ke kolam utama.
Petirtaan Jolotundo dikaitkan dengan Raja Udayana dan Prabu Airlangga. Pada dinding bangunan tercatat angka tahun 899 Saka atau 977 Masehi, yang menunjukkan keberadaan situs ini sejak masa Hindu kuno. Pada dinding juga ditemukan relief bertuliskan “gempeng” yang dimaknai sebagai melebur atau menghilangkan dosa.
Juru kunci Petirtaan Jolotundo, Mbah Jari, menjelaskan bahwa terdapat beberapa sarana yang biasa dibawa pengunjung yang akan melaksanakan penyucian diri. Sarana tersebut antara lain dupa atau kemenyan, sesajen, serta bunga tiga warna atau kembang telon.
Menurutnya, dupa digunakan sebagai sarana untuk memohon izin dan restu sebelum ritual dilaksanakan. Sesajen dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur di kawasan petirtaan. Sesajen umumnya berupa buah pisang dan kelapa. Selain itu, masyarakat juga menyiapkan kopi dan gula yang menggambarkan perjalanan hidup manusia yang tidak terlepas dari pengalaman pahit dan manis.
Bunga tiga warna yang digunakan biasanya terdiri atas mawar, melati, dan kenanga. Ketiga jenis bunga ini lazim dipakai dalam tradisi masyarakat Jawa. Dalam prosesi penyucian diri, bunga-bunga tersebut ditaburkan di kolam tempat mandi.
Mbah Jari menambahkan, pemilihan hari untuk melakukan penyucian diri biasanya disesuaikan dengan weton atau hari kelahiran. Sebagian masyarakat juga memilih hari Jumat Legi, Jumat Kliwon, atau malam Selasa Kliwon berdasarkan perhitungan kalender Jawa.
Di kawasan petirtaan terdapat pemisahan ruang berdasarkan jenis kelamin. Kolam di bagian utara atau sisi kiri digunakan untuk perempuan, sedangkan kolam di bagian selatan atau kanan diperuntukkan bagi laki-laki. Di tengah area terdapat kolam besar yang digunakan masyarakat untuk mengambil air atau sekadar merendam kaki.

