swipe up
[modern_search_box]

Mengungkap Alasan Hari Raya Galungan Selalu Dirayakan pada Budha Kliwon Dungulan

 Mengungkap Alasan Hari Raya Galungan Selalu Dirayakan pada Budha Kliwon Dungulan

Ilustrasi banten/ Paon Visual/ kabarportal

DENPASAR, KABARPORTAL.COM - Pernah terifkir kenapa Galungan jatuh pada Buda Kliwon Dungulan? Tentu ini bukan hal biasa saja dan perlu diketahui bahwa ini merupakan hari yang istimewa khususnya untuk umat Hindu.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari di Bali, Hari Raya Galungan muncul sebagai momen sakral yang dinanti umat Hindu setiap enam bulan sekali, tepatnya setiap 210 hari menurut penanggalan Bali.

Perayaan ini tak pernah bergeser dari hari Rabu yang bertepatan dengan pancawara Kliwon dan wuku Dungulan dalam kalender Bali, atau dikenal sebagai Budha Kliwon Dungulan.

Lantas, apa yang membuat tanggal ini begitu istimewa dan tetap konsisten sepanjang waktu?

Memahami Mekanisme Kalender Bali dan Peran Wuku Dungulan

promo pembuatan website bulan ini



Untuk menyelami rahasia di balik penetapan Hari Raya Galungan, kita harus menjelajahi sistem penanggalan Bali yang unik, yaitu Pawukon. Berbeda dari kalender Masehi atau Saka yang lebih umum dikenal, Pawukon berputar dalam siklus 210 hari yang terbagi menjadi 30 wuku, masing-masing berlangsung selama tujuh hari. Di antara deretan wuku itu, Dungulan menjadi pusat perhatian karena menjadi waktu utama pelaksanaan Galungan.

Dalam Pawukon, penentuan hari melibatkan gabungan saptawara—yaitu tujuh hari dalam seminggu seperti Senin hingga Minggu—dan pancawara yang terdiri dari lima hari: Kliwon, Umanis, Paing, Pon, serta Wage. Khusus untuk Galungan, hari yang dipilih adalah Budha atau Rabu yang bersamaan dengan Kliwon di wuku Dungulan. Kombinasi ini bukan sekadar kebetulan, melainkan pilihan yang sarat nilai spiritual dalam tradisi Hindu Bali.

Catatan sejarah dari lontar kuno Purana Bali Dwipa mencatat bahwa perayaan Galungan pertama kali digelar pada Purnama Kapat, atau bulan purnama keempat dalam kalender Saka, tepatnya pada tahun 804 Saka yang setara dengan 882 Masehi. Saat itu, hari yang jatuh adalah Budha Kliwon Dungulan, dan sejak itu tradisi ini terus dilestarikan, menjadikannya sebagai waktu suci untuk mengenang kemenangan Dharma atas Adharma, atau kebenaran melawan kejahatan.

Makna Mendalam di Balik Budha Kliwon Dungulan

Pemilihan Budha Kliwon Dungulan untuk Hari Raya Galungan tak hanya bergantung pada kalender, tapi juga pada filosofi yang dalam. Dalam keyakinan Hindu Bali, setiap hari dalam Pawukon membawa energi spiritual tersendiri. Hari Budha atau Rabu melambangkan kebijaksanaan dan keseimbangan, sementara Kliwon dikenal sebagai hari yang kaya akan energi spiritual, baik yang positif maupun negatif. Saat keduanya bertemu, terciptalah saat yang sempurna untuk merefleksikan keseimbangan antara kebaikan dan kejahatan dalam kehidupan manusia.

1 dari 3 halaman



Tim Kabarportal

Baca Juga: