swipe up
[modern_search_box]

Makna dan Tata Cara Brata Siwa Ratri dalam Tradisi Hindu

 Makna dan Tata Cara Brata Siwa Ratri dalam Tradisi Hindu

ilustrasi gambar Dewa Siwa/ Di’ grazie a Alam Hendro/ Kabarportal

DENPASAR, KABARPOTAL.COM - Perayaan Siwa Ratri dilaksanakan pada Purwaning Tilem atau panglong ping 14, sehari sebelum bulan mati (Tilem Kapitu) pada Sasih Kepitu, bulan ketujuh dalam penanggalan Bali. Malam suci ini dipandang sebagai momentum spiritual untuk melakukan pengendalian diri, penyucian batin, serta mendekatkan diri kepada Sang Hyang Siwa.

Dalam tradisi Hindu, Brata Siwa Ratri tidak dilaksanakan dalam satu bentuk tunggal. Terdapat tiga tingkatan pelaksanaan brata yang dikenal sebagai Utama, Madhya, dan Nista. Ketiganya memiliki tujuan yang sama, yakni pengendalian indria dan kesadaran penuh, dengan tingkat pelaksanaan yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing umat.

Brata Siwa Ratri tingkat Utama mencakup Maunabrata, Upawasa, dan Jagra. Maunabrata dilakukan dengan menahan diri dari berbicara atau setidaknya menghindari ucapan negatif. Upawasa dijalankan dengan tidak makan dan tidak minum, sementara Jagra mengharuskan umat tetap terjaga tanpa tidur sepanjang malam Siwa Ratri.

Tingkatan Madhya meliputi Upawasa dan Jagra tanpa Maunabrata. Adapun tingkatan Nista hanya menjalankan Jagra, yakni tidak tidur sepanjang malam. Ketiga bentuk brata tersebut selalu memuat unsur Jagra sebagai inti pelaksanaan.

promo pembuatan website bulan ini



Kitab Sivapurana menegaskan pentingnya pengendalian diri dalam perayaan ini. Pada Sivapurana 1.9.12 disebutkan bahwa seorang penyembah dianjurkan berpuasa siang maupun malam saat Siwaratri serta mengendalikan seluruh organ indria secara sempurna.

Keutamaan Jagra dalam Brata Siwa Ratri tidak terlepas dari kisah Lubdaka, seorang pemburu yang tanpa niat awal memuja Dewa Siwa. Demi bertahan hidup, Lubdaka berjaga semalam suntuk di atas pohon Bila dan menjatuhkan daun Bila ke bawah agar tidak tertidur. Tanpa disadarinya, daun-daun tersebut jatuh tepat di atas Lingga Siwa pada malam Siwa Ratri.

Perbuatan yang dilakukan dengan konsentrasi penuh dan ketulusan batin itu menjadi sebab Lubdaka memperoleh pahala besar yang mampu menghapus kegelapan jiwanya. Tindakan ini dikenal sebagai Ajnata-sukrti, yakni kebajikan yang dilakukan tanpa kesadaran penuh akan nilai spiritualnya.

Sivapurana 4.40.97 menyebutkan bahwa seseorang yang melaksanakan brata ini, meskipun dalam ketidaktahuan, selama ia tidak tidur semalam penuh, akan mencapai Sayujya atau penyatuan dengan Dewa Siwa. Hal serupa ditegaskan dalam Kekawin Siwaratri Kalpa pupuh 34 bait 9, yang menyatakan bahwa setiap manusia yang berjaga pada malam Siwaratri akan menuju Siwalaya dan memperoleh kebahagiaan sejati.

1 dari 3 halaman



Tim Kabarportal

Baca Juga: