swipe up
[modern_search_box]

Menelisik Filosofi Tumpek Uye: Harmoni Manusia, Satwa, dan Pengendalian Diri

 Menelisik Filosofi Tumpek Uye: Harmoni Manusia, Satwa, dan Pengendalian Diri

ilustrasi Tumpek Uye atau Tumpek Kandang/@jayesh.madhoo/Instagram

DENPASAR, KABARPORTAL.COM - Masyarakat Hindu di Bali kembali merayakan Tumpek Uye atau yang akrab dikenal sebagai Tumpek Kandang. Momentum yang jatuh setiap Sabtu Kliwon wuku Uye ini bukan sekadar ritual rutin enam bulanan, melainkan sebuah deklarasi kasih sayang universal terhadap mahluk hidup, khususnya hewan ternak dan peliharaan.

Secara harfiah, Tumpek Kandang menjadi panggung bagi manusia untuk menyampaikan rasa terima kasih mendalam. Hewan dianggap memiliki jasa besar, mulai dari membantu pekerjaan di sawah, menjadi sarana upacara (yadnya), hingga memenuhi kebutuhan konsumsi manusia.

Makna Tersembunyi di Balik Istilah 'Kandang'

Dalam kacamata filosofi, istilah "kandang" membawa pesan yang jauh lebih personal. Ia melambangkan upaya manusia untuk mengandangkan pikiran yang liar. Pikiran manusia seringkali diibaratkan seperti hewan yang sulit dikendalikan; bisa menjadi malas, tidak beretika, atau bergerak tanpa arah.

Ritual ini menjadi pengingat agar kita mampu mengekang nafsu kebinatangan dalam diri. Hal ini diperkuat dengan perhitungan nilai urip pada Saniscara Kliwon Uye yang berjumlah 7 (Saniscara 9 + Kliwon 8 + Uye 8 = 25; 2+5=7). Dalam tradisi Hindu, angka 7 berkaitan dengan watak rajas atau sifat yang aktif dan agresif, yang jika tidak dikelola, identik dengan watak sato (binatang).

Ritual Nyomia: Menetralisir Sifat Hewani

promo pembuatan website bulan ini



Umat Hindu meyakini bahwa apa yang dikonsumsi akan membentuk karakter. Daging hewan yang dimakan dipercaya meninggalkan residu energi yang memengaruhi tabiat manusia. Oleh karena itu, Tumpek Uye menjadi momen untuk nyomia atau menetralisir kekuatan negatif tersebut melalui penyucian diri.

Berdasarkan naskah sastra suci Sundarigama, upacara ini ditujukan kepada semua jenis binatang, mulai dari unggas hingga hewan besar seperti sapi, kerbau, dan gajah. Pusat pemujaan tertuju pada Sang Hyang Rare Angon, manifestasi Dewa Siwa sebagai penguasa dan penjaga seluruh satwa di alam semesta.

Tata Cara dan Persembahan Banten

Persembahan yang dihaturkan merupakan simbol harapan agar hewan ternak memberikan manfaat melimpah dan pemiliknya terhindar dari tulah (kualat) karena hanya mengambil hasil tanpa memberi penghormatan.

Berikut adalah rincian banten atau sarana upacara yang digunakan:

1 dari 2 halaman



Tim Kabarportal

Baca Juga: