Menjaga Marwah Arak Bali: Antara Tradisi Luhur dan Geliat Ekonomi Modern

Menjaga Marwah Arak Bali Antara Tradisi Luhur dan Geliat Ekonomi Modern/ kabarportal
NUSA DUA, KABARPORTAL.COM - Setiap tanggal 29 Januari, Bali memperingati sebuah warisan cair yang telah menyatu dengan napas kehidupan masyarakatnya: Arak Bali. Peringatan ini menjadi tonggak penting untuk mengukuhkan posisi minuman tradisional tersebut, baik sebagai simbol budaya maupun penggerak ekonomi lokal yang menjanjikan.
Penetapan Hari Arak Bali berawal dari Keputusan Gubernur Bali Nomor 929/03-I/HK/2022. Kebijakan ini menegaskan bahwa arak memiliki kedudukan terhormat, jauh melampaui sekadar konsumsi, melainkan bagian integral dari ritual dan doa-doa masyarakat di Pulau Dewata.
Warisan Budaya dan Identitas Kolektif
Managing Director PT Hatten Bali Tbk, Ida Bagus Rai Budarsa, menyatakan bahwa peringatan ini membawa pesan strategis bagi dunia usaha dan pelestarian budaya. Baginya, arak adalah identitas yang harus dijaga kualitas dan keberlangsungannya.
"Arak Bali adalah bagian dari identitas dan tradisi masyarakat Bali yang diwariskan secara turun-temurun," ujar pria yang akrab disapa Gus Rai ini saat ditemui di kawasan Nusa Dua, Jumat (29/1/2026).
Gus Rai menekankan bahwa tradisi ini memiliki akar yang kuat dalam berbagai upacara adat. Oleh karena itu, upaya pelestarian harus dilakukan secara menyeluruh, mencakup perlindungan nilai-nilai sakral sekaligus peningkatan standar produksi.
Inovasi Tanpa Menanggalkan Akar
Dalam menghadapi pasar modern, industri minuman tradisional Bali dituntut untuk terus beradaptasi. PT Hatten Bali Tbk melihat momentum ini sebagai peluang untuk menyelaraskan proses produksi tradisional dengan sentuhan inovasi global agar mampu bersaing secara kompetitif.
Tantangan utama saat ini adalah memastikan arak Bali tetap relevan bagi generasi muda tanpa menggerus esensinya. Gus Rai berpendapat bahwa industri berperan sebagai jembatan antara masa lalu yang kaya akan tradisi dan masa depan yang penuh dengan kreativitas.
"Inovasi diperlukan, namun tetap harus menghormati nilai dan akar budaya Bali. Berinovasi boleh, tetapi ruh tradisinya tidak boleh hilang," tegas Gus Rai.
Membuka Peluang Ekonomi Lokal
Lebih dari sekadar seremoni tahunan, Hari Arak Bali diharapkan mampu memantik kesadaran kolektif masyarakat. Penguatan sektor ini akan berdampak langsung pada kesejahteraan para perajin arak di desa-desa dan pelaku usaha lokal di seluruh Bali.

