swipe up
[modern_search_box]

Saranan Mebayuh Oton, Banten dan Melukan yang Sesuai Hari Kelahiran

 Saranan Mebayuh Oton, Banten dan Melukan yang Sesuai Hari Kelahiran

Nengah NW/ YouTube/ Kabarportal

DENPASAR, KABARPORTAL.COM

Bayuh Oton merupakan salah satu ritual penting yang dijalankan oleh umat Hindu di Bali. Tradisi ini memiliki tujuan utama untuk menghilangkan berbagai mara bahaya dan rintangan dalam hidup, sehingga dapat membawa kerahayuan atau kedamaian bagi individu yang melaksanakannya.

Asal Usul dan Makna Bayuh Oton

Menurut Penekun Lontar, Ida Bagus Putra Manik Ariana, istilah Bayuh Oton berasal dari dua kata, yaitu bayuh dan oton. Kata bayuh memiliki arti beragam, termasuk bayar, bagi, atau bahaya, sedangkan oton diartikan sebagai weton atau kelahiran. Dalam konteks ini, bayuh merujuk pada konsep membayar atau menghilangkan bahaya yang berkaitan dengan kehidupan seseorang, khususnya pada hari kelahiran.[irp]“Kata baya bersumber dari istilah mayah, yang merupakan penguasa spirit kehidupan. Setiap kelahiran memiliki hubungan dengan dewa atau kala tertentu, sehingga tradisi ini menjadi momen untuk berbagi dan membayar segala bentuk energi negatif,” jelas Ida Bagus Putra Manik Ariana.

Siklus Pelaksanaan

Ritual Bayuh Oton umumnya dilaksanakan bersamaan dengan otonan, yang merupakan peringatan hari kelahiran berdasarkan kalender Bali. Siklus ini berlangsung setiap 210 hari, dihitung berdasarkan kombinasi sistem Uku, Saptawara, dan Pancawara. Otonan sendiri bertujuan untuk mempersembahkan sarana upakara sesuai dengan weton kelahiran, dengan harapan agar segala hal buruk dalam kehidupan dapat berubah menjadi kebaikan.

Jenis-Jenis Bayuh Oton

Ida Bagus Putra Manik Ariana menjelaskan bahwa Bayuh Oton terbagi ke dalam lima jenis berdasarkan sarana yang digunakan, yaitu:[irp]
  1. Bayuh Oton dengan Sarana Mantra Bayuh Oton menggunakan kekuatan mantra, seperti Siwa Gemana, Uma Gemana, Gangga Gemana, Bharuna Gemana, Wana Gemana, dan Giri Gemana. Tingkat kanista (sederhana) bisa dilakukan hanya dengan melafalkan mantra pada hari kelahiran sebagai bentuk pembersihan diri, terutama bagi mereka yang kurang mampu secara ekonomi.
  2. Bayuh Oton dengan Sarana Logam Sarana logam yang digunakan disesuaikan dengan hari kelahiran seseorang. Contohnya:
    • Minggu (Redite): Emas sebagai lambang Surya.
    • Senin (Soma): Perak sebagai lambang Candra.
    • Selasa (Anggara): Gangsa sebagai lambang Api.
    • Rabu (Budha): Besi sebagai lambang Tanah.
    • Kamis (Wrhaspati): Perunggu sebagai lambang Guntur.
    • Jumat (Sukra): Tembaga sebagai lambang Sabda.
    • Sabtu (Saniscara): Timah sebagai lambang Angin.
1 dari 2 halaman

Tim Kabarportal

Baca Juga: