swipe up
[modern_search_box]

Asal Usul Otonan dan Makna Ritual Napak Sithi dalam Tradisi Hindu Bali

 Asal Usul Otonan dan Makna Ritual Napak Sithi dalam Tradisi Hindu Bali

Nengah NW/ YouTube/ Kabarportal

DENPASAR, KABARPORTAL.COM - Tradisi Otonan atau Pawetonan dan Napak Sithi masih dijaga kuat oleh umat Hindu di Bali. Upacara ini menjadi bagian penting dari siklus kehidupan manusia sejak usia dini. Dilaksanakan saat bayi memasuki usia 210 hari berdasarkan kalender Bali, ritual tersebut menandai fase awal hubungan manusia dengan alam dan nilai spiritual yang mengitarinya.

Dalam praktiknya, Otonan dan Napak Sithi merupakan kelanjutan dari upacara tiga bulanan yang lebih dulu dilakukan. Tradisi ini tidak berdiri sebagai seremoni semata, melainkan sarana penyucian diri dan permohonan keselamatan bagi anak yang baru memulai kehidupannya di dunia.

Jejak Sejarah dan Asal Usul Otonan

Istilah Otonan berakar dari bahasa Jawa Kuno, yakni kata wetu atau metu yang bermakna keluar, lahir, atau menjelma. Dari kata inilah lahir pemahaman tentang peringatan hari kelahiran yang khas dalam kebudayaan Bali.

Berbeda dengan perayaan ulang tahun berdasarkan kalender Masehi, Otonan mengikuti sistem penanggalan Bali dengan siklus 210 hari atau enam bulan Bali. Pola ini membuat Otonan dirayakan secara berkala sepanjang hidup seseorang, sebagai pengingat akan perjalanan lahir batin manusia.

promo pembuatan website bulan ini



Otonan pertama bagi bayi umumnya dilaksanakan pada usia 105 hari. Pada fase ini, tubuh bayi diyakini telah berkembang dengan baik sehingga siap menjalani ritual penyucian secara spiritual.

Makna Spiritual dalam Upacara Otonan

Dalam pandangan masyarakat Hindu Bali, Otonan memiliki makna penyucian jiwa. Bayi yang belum menjalani Otonan dianggap belum sepenuhnya suci secara niskala. Oleh karena itu, upacara ini diposisikan sebagai langkah awal untuk membersihkan pengaruh negatif yang mungkin melekat sejak kelahiran.

Pemangku adat dan tokoh agama memandang Otonan sebagai bagian dari pendidikan spiritual sejak dini. Ritual ini mengajarkan nilai kesadaran, penghormatan kepada kehidupan, serta hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Filosofi Angka 210 dan Konsep Tri Pramana

Angka 210 yang menjadi dasar penentuan hari Otonan memiliki makna filosofis yang dalam. Dalam ajaran Hindu, angka ini dikaitkan dengan konsep Samkhya, yakni aktifnya Tri Pramana dalam diri manusia: Bayu (tenaga), Sabda (ucapan), dan Idep (pikiran).



Melalui Otonan dan Napak Sithi, keluarga memohon perlindungan agar ketiga unsur tersebut tumbuh seimbang dalam diri anak. Doa dan upacara yang dilakukan menjadi simbol harapan akan kehidupan yang selaras, sehat, dan berlandaskan dharma.

1 dari 2 halaman

Tim Kabarportal

Baca Juga: